Kejar Pertumbuhan 8 Persen, Pemerintah Targetkan Devisa dari Sektor Pariwisata USD39,4 Miliar
Sepanjang 2025, jumlah perjalanan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta kunjungan dan pergerakan wisatawan nusantara juga menunjukkan tren yang positif.
IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sektor pariwisata menjadi salah satu andalan dalam mendukung perolehan devisa negara di tengah ketidakpastian global.
Sepanjang 2025, jumlah perjalanan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta kunjungan dan pergerakan wisatawan nusantara juga menunjukkan tren yang semakin positif dengan total mencapai 1,2 miliar perjalanan.
Pada periode awal 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 3,44 juta, sedangkan perjalanan wisatawan nusantara tercatat sebesar 319 juta. Capaian tersebut mencerminkan meningkatnya mobilitas masyarakat dan kepercayaan wisatawan terhadap destinasi pariwisata Indonesia, sekaligus memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Nah untuk target pertumbuhan ekonomi 8 persen, target kontribusi daripada sektor parwisata adalah 5 persen terhadap GDP nasional dengan perolehan devisa diharapkan USD39,4 miliar. Kalau angkanya ini setara dengan ekspor utama Indonesia yaitu batu bara dan sawit. Maka ini adalah domestic engine of growth yang harus kita pacu,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata Tahun 2026, Rabu (20/5/2026).
Airlangga melanjutkan, sektor pariwisata saat ini kian bergerak menuju paradigma baru yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan inklusif. Untuk itu, Indonesia perlu terus memperkuat kompetensi SDM, kualitas destinasi, aksesibilitas, serta konektivitas agar semakin kompetitif di tengah persaingan pariwisata global.
Dalam meningkatkan kualitas pariwisata, Pemerintah mendorong orkestrasi strategis sejumlah pilar utama, salah satunya penguatan SDM pariwisata melalui peningkatan kapasitas, pelatihan, sertifikasi, vokasi, dan link and match.
Selain itu, kata Airlangga, Pemerintah juga terus mendorong peningkatan ekosistem destinasi melalui peningkatan standar keselamatan, perbaikan aksesibilitas dan konektivitas salah satunya melalui perluasan pemberlakuan fasilitas Bebas Visa Kunjungan (BVK) bagi negara dengan pasar wisman potensial, mendorong penguatan peran Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata dan BUPP KEK, dan mendorong Indonesia Quality Tourism Fund sebagai skema pendanaan alternatif di luar skema APBN reguler.
Untuk memperkuat upaya peningkatan kualitas pariwisata tersebut, Pemerintah juga telah menetapkan 11 KEK Pariwisata untuk menciptakan ekosistem investasi yang lebih kondusif dan kompetitif, serta 37 bandara internasional baru sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat konektivitas.
Lebih lanjut, Airlangga menambahkan bahwa kawasan ASEAN dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata, terutama melihat capaian Thailand dan Malaysia yang mampu menarik lebih dari 35 juta wisatawan mancanegara. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing destinasi wisata dan meningkatkan konektivitas serta aksesibilitas wisatawan asing.
Melalui kebijakan bebas visa kunjungan, jumlah wisatawan mancanegara diharapkan meningkat hingga 2,5 juta kunjungan dengan tahap awal menyasar negara Jepang, Korea Selatan, Australia, India, Selandia Baru, Kazakhstan, Belarus, dan Makau, serta peningkatan kunjungan permanent resident di Singapura, khususnya menuju kawasan Batam, Bintan, dan Karimun sebagai salah satu pintu utama wisata regional.
Selain pengembangan destinasi wisata unggulan, percepatan penerapan single platform perizinan penyelenggaraan event juga terus didorong Pemerintah guna mempermudah pelaksanaan berbagai kegiatan berskala internasional di Indonesia. Di samping itu, promosi pariwisata berbasis film destinasi juga dinilai penting untuk memperkuat daya tarik wisata nasional.
“Saya berharap dengan kolaborasi seluruh pihak kita bisa sama-sama meningkatkan standard keamanan destinasi, memperkuat konektivitas dan aktifitas destinasi wisata, integrasi perencanaan dari tujuan pariwisata, promosi dan branding dari destinasi pariwisata dan terkait dengan pelatihan dan sertifikasi,” ujar Airlangga.
(NIA DEVIYANA)