Kemenperin Gencarkan Program Penumbuhan Wirausaha Baru IKM di Halmahera Selatan
Pengembangan wirausaha baru di daerah menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif.
IDXChannel—Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, melalui program penumbuhan wirausaha baru industri kecil.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pengembangan wirausaha baru di daerah menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus berkolaborasi untuk mempercepat pembangunan ekonomi yang inklusif dan mengedepankan kearifan sumber daya setempat, baik dari pemanfaatan bahan baku lokal hingga sosial budaya,” ucap Agus dalam keterangan resminya, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, wirausaha baru yang berkembang menjadi industri kecil dan menengah (IKM) dapat memperkuat peran sektor tersebut dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data BPS 2024, jumlah unit usaha IKM mencapai 4,45 juta atau 99,79 persen dari total unit usaha industri di Indonesia.
Sementara itu, berdasarkan Sakernas Februari 2026, IKM menyerap 13,06 juta tenaga kerja atau 65,38 persen dari total tenaga kerja sektor industri.
“Penumbuhan wirausaha baru melalui berbagai pembinaan di beragam sektor industri ini juga merupakan pelaksanaan amanah Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional,” tegas Agus.
Implementasi program tersebut dilakukan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) melalui kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru Industri Kecil di Halmahera Selatan pada 11–14 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Labuha tersebut diikuti 80 peserta.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita mengatakan program itu difokuskan pada tiga sektor, yakni industri pengolahan kue dan roti, batik, serta perbengkelan roda dua.
Reni menambahkan, ketiga sektor tersebut dipilih untuk menjawab permintaan pasar yang selama ini masih banyak dipasok dari luar daerah.
“Untuk batik, pelatihan difokuskan pada teknik batik cap dengan motif khas Halmahera Selatan, karena produksi batik dengan teknik ini mudah untuk dilakukan secara berulang, dengan kualitas yang sama dan waktu pengerjaan lebih singkat,” jelas Reni.
Ia menambahkan, motif khas daerah dapat menjadi pembeda sekaligus nilai tambah produk, termasuk untuk memenuhi kebutuhan seragam instansi, sekolah, maupun oleh-oleh khas daerah.
Sementara itu, Plt. Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Budi Setiawan mengatakan peserta juga mendapat pembekalan terkait legalitas usaha, permodalan, dan manajemen bisnis.
“Pada hari kedua hingga keempat, pelatihan mencakup praktik teknis produksi dan manajemen usaha, pendampingan penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), kunjungan industri, serta bantuan mesin/peralatan,” ucap Budi.
Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, pembangunan ekonomi daerah tidak hanya membutuhkan investasi berskala besar, tetapi juga perlu ditopang oleh wirausahawan lokal yang mandiri dan berdaya saing.
“Percepatan pembangunan ekonomi yang inklusif tidak cukup hanya mengandalkan investasi skala besar, melainkan harus ditopang oleh lahirnya para wirausahawan lokal yang mandiri dan berdaya saing tinggi,” jelas Helmi.
(Kidung Dhia)