Konflik Timur Tengah Ancam Sektor Energi RI, Risiko Fiskal dan Rupiah Meningkat
Risiko lonjakan harga minyak yang dapat berdampak langsung terhadap stabilitas fiskal dan pasar keuangan Indonesia.
IDXChannel - Eskalasi ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko lonjakan harga minyak yang dapat berdampak langsung terhadap stabilitas fiskal dan pasar keuangan Indonesia.
Ketegangan terbaru memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi rute sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Ancaman terhadap tanker minyak di kawasan Teluk Persia mendorong harga minyak Brent melonjak sekitar 6,7 persen ke level USD77,74 per barel.
Menurut Kiwoom Sekuritas, situasi ini menjadi krusial bagi Indonesia. Sebagai net oil importer, ketergantungan terhadap pasokan energi impor membuat ekonomi domestik rentan terhadap gejolak harga global.
"Cadangan BBM nasional diperkirakan hanya cukup sekitar 20 hari. Jika konflik berkepanjangan, Indonesia berpotensi harus membeli minyak dengan harga lebih mahal dibandingkan sebelum eskalasi terjadi," tulis riset Kiwoom Sekuritas, Rabu (4/3/2026).
Sementara itu, secara fiskal dampaknya tidak kecil. Sebab setiap kenaikan USD1 harga minyak diperkirakan menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp10,3 triliun, sedangkan tambahan penerimaan negara hanya sekitar Rp3,6 triliun.
Selama harga minyak masih berada di bawah USD90 per barel, dampaknya terhadap pasar domestik umumnya masih sebatas volatilitas sentimen.
Namun, jika harga Brent menembus USD100 per barel dan disertai gangguan distribusi fisik, situasi bisa berubah menjadi shock energi. Dalam skenario tersebut, tekanan berpotensi meluas ke inflasi, nilai tukar rupiah, hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Ketika harga mendekati atau menembus USD100 dan supply fisik terganggu, risiko terhadap inflasi energi global dan tekanan fiskal negara importir akan meningkat signifikan,” tulis riset tersebut.
Di pasar saham, sejumlah emiten energi berpotensi mendapat sentimen positif dari kenaikan harga komoditas. Emiten migas seperti PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dinilai berpotensi diuntungkan.
Sementara itu, emiten batu bara seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), serta PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) juga berpeluang memperoleh katalis positif jika harga energi global terus menanjak.
Secara sektoral, lonjakan harga energi umumnya turut mendorong inflasi komoditas dan memperkuat sentimen sektor resources.
Namun, sejumlah sektor berpotensi tertekan. Transportasi dan logistik menghadapi risiko kenaikan biaya operasional karena bahan bakar menjadi komponen biaya utama.
Industri manufaktur juga berisiko mengalami penurunan margin akibat kenaikan biaya produksi. Sementara sektor konsumer dapat terdampak jika inflasi energi menggerus daya beli masyarakat.
(DESI ANGRIANI)