Krisis Minyak Ancam Pasokan Poliester untuk Industri Pakaian Global
Lonjakan harga bahan bakar fosil sejak perang pecah di Timur Tengah menekan pemasok poliester dan produsen pakaian di berbagai negara.
IDXChannel - Lonjakan harga bahan bakar fosil sejak perang pecah di Timur Tengah menekan pemasok poliester dan produsen pakaian di berbagai negara.
Dilansir dari Asia One pada Jumat (1/5/2026), perusahaan fast fashion seperti Zara dan H&M berpotensi menghadapi peningkatan biaya.
Filatex, salah satu produsen benang poliester terbesar di India, membayar hampir 30 persen lebih mahal untuk bahan baku yang berasal dari minyak bumi. Asam tereftalat murni dan monoetilena glikol dibutuhkan untuk membuat benang poliester.
"Pemasok asal China menaikkan harga dan pasokan dari Timur Tengah terganggu," kata Direktur Pelaksana Filatex Madhu Sudhan Bhageria kepada Reuters.
Tekanan ini dirasakan di seluruh rantai pasokan pakaian, yang sebagian besar berada di Asia.
Terbuat dari minyak bumi, poliester mendominasi industri tekstil, menyumbang 59 persen dari produksi serat global dan digunakan dalam segala hal, mulai dari celana pendek hingga gaun.
Tekanan tersebut pada akhirnya dapat dirasakan perusahaan ritel yang bergantung pada rantai pasokan di Asia. Meskipun untuk saat ini, stok pakaian untuk beberapa musim ke depan relatif aman.
Perusahaan ritel Primark asal Inggris mengatakan, stok musim semi/musim panas dan sebagian besar stok musim gugur/musim dingin telah terjamin.
Dalam sebuah pernyataan, H&M mengatakan belum melihat gangguan besar pada produksi di Bangladesh. Pemilik Zara, Inditex, menolak berkomentar tentang pasokan poliesternya.
Peritel seperti Zara dan H&M mulai beralih ke poliester daur ulang, yang terbuat dari limbah botol plastik, yang dapat mengurangi sebagian tekanan biaya yang disebabkan oleh lonjakan harga minyak.
Namun secara global, poliester daur ulang masih hanya menyumbang 12 persen dari total produksi poliester. (Wahyu Dwi Anggoro)