ECONOMICS

Neraca Dagang Kumulatif Januari-Mei 2026 Surplus USD4,03 Miliar

Anggie Ariesta 01/07/2026 13:10 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan surplus sebesar USD4,03 miliar sepanjang periode Januari-Mei 2026.

Neraca Dagang Kumulatif Januari-Mei 2026 Surplus USD4,03 Miliar. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan surplus sebesar USD4,03 miliar sepanjang periode Januari-Mei 2026, meskipun kinerja bulanan pada Mei 2026 sempat mencatatkan rapor defisit.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, capaian surplus kumulatif tersebut sepenuhnya disokong oleh kokohnya performa ekspor komoditas nonmigas yang mencatatkan surplus tebal sebesar USD16,31 miliar.

Di sisi lain, sektor perdagangan migas nasional justru masih menjadi beban karena terus mengalami defisit yang cukup dalam, yakni menyentuh angka USD12,28 miliar.

“Hingga bulan Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD4,03 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Mei 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD16,31 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD12,28 miliar,” ujarnya dalam konferensi pers rilis BPS di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Mei 2026 berhasil menyentuh angka USD115,36 miliar. Angka tersebut mencerminkan adanya pertumbuhan sebesar 3,02 persen jika disandingkan dengan performa pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Penguatan tersebut dipicu oleh performa pengapalan produk nonmigas yang naik 3,89 persen menjadi USD110,19 miliar.

Tiga negara raksasa global yaitu China, Amerika Serikat, dan India, masih kokoh berdiri sebagai destinasi utama pengiriman komoditas nonmigas Indonesia.

Akumulasi kontribusi dari ketiga negara mitra dagang utama tersebut mendominasi hingga 44,20 persen dari total nilai ekspor nonmigas nasional.

Dari lini produk, surplus perdagangan nonmigas sepanjang lima bulan pertama ini digerakkan oleh lima komoditas andalan, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD13,92 miliar, bahan bakar mineral sebesar USD10,88 miliar, besi dan baja sebesar USD7,09 miliar, nikel dan barang daripadanya sebesar USD5,36 miliar dan alas kaki sebesar USD2,72 miliar.

Berbeda dengan pertumbuhan ekspor yang cenderung melambat, nilai impor kumulatif Indonesia justru melesat tajam sebesar 15,24 persen menjadi USD111,33 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pembelian dari luar negeri ini didominasi oleh kelompok nonmigas sebesar USD93,88 miIiar (naik 13,16 persen), sementara sektor impor migas melonjak agresif sebesar 27,89 persen menjadi USD17,45 miliar.

Jika ditinjau dari profil penggunaannya, lonjakan nilai impor nonmigas terjadi merata di seluruh lini, baik pada kelompok barang modal, barang konsumsi, maupun pasokan penolong industri.

Sektor bahan baku/penolong menjadi penyumbang impor terbesar dengan nilai USD79,40 miIiar (naik 14,41 persen), diikuti oleh impor barang modal senilai USD22,12 miliar (naik 17,53 persen), serta barang konsumsi yang menyerap dana USD9,81 miliar (naik 17,05 persen).

China bertengger di posisi puncak sebagai negara asal pasokan impor nonmigas terbesar bagi pasar domestik dengan nilai pasokan menembus USD39,27 miliar atau menguasai porsi 41,83 persen.

Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang dengan nilai pasokan USD5,17 miliar (5,51 persen) dan Australia di peringkat ketiga dengan andil senilai USD5,02 miliar (5,35 persen).

(Dhera Arizona)

SHARE