OJK Soroti Geopolitik Timteng dan Tarif AS Jadi Risiko bagi Pasar Keuangan RI
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih dalam kondisi yang terjaga kuat pada awal tahun 2026.
IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih dalam kondisi yang terjaga kuat pada awal tahun 2026. Kendati demikian, OJK tetap mewaspadai sejumlah risiko global yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan, mulai dari ketegangan di Timur Tengah (Timteng) hingga kebijakan tarif Donald Trump.
Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, dinamika geopolitik dan ekonomi global menjadi faktor risiko utama (downside risk) saat ini.
Perempuan yang kerap disapa Kiki itu menyoroti kinerja ekonomi Amerika Serikat pada kuartal IV-2025 yang tumbuh hanya 1,4 persen, angka yang berada jauh di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini diperumit dengan tekanan inflasi yang kembali merangkak naik.
“Peningkatan tensi geopolitik dan juga fragmentasi geoekonomi pada awal 2026, termasuk di Timur Tengah serta dinamika kebijakan perdagangan di AS menjadi downside risk yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan secara global,” kata Kiki dalam konferensi pers di Gedung Menara Radius Prawiro OJK, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Kiki menambahkan, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga pada pertengahan tahun mulai menurun, seiring dengan munculnya kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama (higher for longer).
Selain AS, tekanan juga datang dari Asia, di mana China masih bergulat dengan krisis sektor properti meski kinerja ekspornya tetap surplus.
Di sisi domestik, Kiki memaparkan data yang cukup melegakan. Ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 tercatat tumbuh solid sebesar 5,39 persen (yoy), sehingga secara kumulatif pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2025 mencapai 5,11 persen.
Beberapa indikator kunci dalam negeri juga menunjukkan performa yang positif seperti aktivitas manufaktur tetap berada dalam fase ekspansif pada awal 2026.
Kemudian Indeks Keyakinan Konsumen berada di zona optimis, meski mulai menunjukkan moderasi dan terdapat peningkatan pada inflasi headline, yang dipicu oleh efek basis krisis pangan dan rencana tahun sebelumnya.
“OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga. Perekonomian global masih menunjukkan kinerja yang relatif baik, sejalan dengan penguatan kinerja manufaktur global dan tren pemulihan keyakinan konsumen,” ujar Kiki.
OJK berkomitmen untuk terus memantau dampak dari fragmentasi ekonomi global terhadap pasar keuangan dalam negeri. Meskipun tantangan eksternal cukup berat, fundamental ekonomi Indonesia yang kuat diharapkan mampu menjadi bantalan dari gejolak pasar keuangan dunia.
(Rahmat Fiansyah)