Pasar Tunggu Langkah Nyata Pemerintah usai Fitch Pangkas Outlook Indonesia
Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mempertahankan peringkat Indonesia di 'BBB', namun menurunkan outlook menjadi negatif pada pengumuman pekan lalu.
IDXChannel – Lembaga pemeringkat Fitch Ratings mempertahankan peringkat Indonesia di 'BBB', namun menurunkan outlook menjadi negatif pada pengumuman pekan lalu, menimbulkan kekhawatiran soal kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter negara.
Menurut analis UOB Kay Hian Suryaputra Wijaksana, dalam riset yang terbit pada 6 Maret 2026, perubahan outlook ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain target pertumbuhan ambisius 8 persen yang berisiko memicu pelonggaran fiskal dan rencana revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang bisa melemahkan batas defisit 3 persen.
Selain itu, tekanan belanja sosial yang berkelanjutan serta investasi di luar anggaran menambah potensi liabilitas kontinjensi.
“Kombinasi ini, ditambah indikator tata kelola yang melemah dan sentimen investor yang rapuh, berpotensi menekan prospek fiskal menengah dan bantalan eksternal,” kata Suryaputra.
Fitch tetap mengakui kekuatan fundamental Indonesia, termasuk stabilitas makroekonomi, pertumbuhan moderat, dan utang yang masih terkendali.
Namun, struktur penerimaan negara yang lemah dan biaya utang yang tinggi membatasi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan.
Pemerintah menanggapi dengan optimistis. Mereka menegaskan komitmen menjaga disiplin fiskal dan stabilitas makro, dengan mencatat pertumbuhan PDB 5,39 persen pada akhir 2025, perbaikan indikator ekonomi utama, dan peningkatan penerimaan negara.
Pemerintah juga menegaskan kenaikan belanja tidak akan membahayakan anggaran, dan menyiapkan pengurangan pada program-program andalan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau subsidi bahan bakar, sambil memperkuat koordinasi fiskal-moneter dan pengelolaan investasi strategis melalui Danantara.
Di sisi moneter, BI menegaskan akan terus memperkuat kombinasi kebijakan untuk menjaga stabilitas makro dan finansial, berkolaborasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), serta meningkatkan komunikasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan pasar.
Namun, menurut Suryaputra, pasar kini menunggu langkah konkret pemerintah. Investor mengharapkan pemangkasan belanja yang nyata, peningkatan kualitas belanja negara, dan rencana yang kredibel untuk meningkatkan penerimaan.
Sementara itu, BI perlu memberi sinyal yang jelas soal kemungkinan menahan penurunan suku bunga untuk mempertahankan nilai rupiah.
Dalam jangka pendek, Fitch memperingatkan bahwa outlook negatif berpotensi memperlemah prospek Indonesia, mendorong premi risiko negara naik, dan menekan harga obligasi.
Meski demikian, di paruh kedua tahun, kenaikan imbal hasil bisa menarik kembali investor, menekan yield dan menstabilkan pasar.
Risiko eksternal, termasuk ketegangan geopolitik Timur Tengah atau Teluk, juga berpotensi menambah tekanan, sehingga BI kemungkinan menahan laju pelonggaran moneter hingga ada konsolidasi fiskal yang nyata. (Aldo Fernando)