Pemanfaatan Renewable Energy Terus Berkembang, Begini Prospek Bisnis Ekosistem Tambang
skala aktivitas pertambangan menjadi jauh lebih masif dan memiliki tingkat kompleksitas teknis yang semakin tinggi.
IDXhannel - Upaya pemanfaatan energi alternatif terbarukan terus didorong oleh semua pihak untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan energi berbasis fosil, yang selama ini menjadi penggerak utama kinerja industri pertambangan.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi baru terbarukan (EBT) tersebut di masyarakat, sebagian pihak pun mulai meramalkan bahwa tren ini bakal menjadi 'senjakala' industri pertambangan, berikut juga seluruh bagian dari okesistem yang melingkupinya.
"Nah ini pendapat yang Saya pikir perlu diluruskan, karena faktanya, hingga saat ini industri pertambangan harus diakui masih jadi tulang punggung ketahanan energi dan perekonomian nasional," ujar Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine, dalam keterangan resminya, Senin (4/5/2026).
Klaim sebagai tulang punggung tersebut, misalnya saja, bisa didasarkan data dan dokumen Rancana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025 hingga 2034, di mana permintaan listrik nasional diperkirakan tetap akan tumbuh sekitar 5,3 persen setiap tahunnya.
Tren pertumbuhan permintaan listrik yang stabil dan menjanjikan tersebut tentu berimbas pada pertumbuhan konsumsi batu bara, dalam posisinya sebagai pilar utama produksi listrik Tanah Air.
Karenanya, proyeksi yang terangkum dalam RUPTL 2025-2034 tersebut dapat menjadi bukti sahih adanya potensi besar yang juga dimiliki oleh industri pertambangan ke depan, dengan komoditas tambang dan nikel sebagai penggerak utamanya.
"Meski penggunaan energi baru terbarukan terus meningkat, batu bara tetap memegang peranan strategis dalam bauran energi nasional. Begitu pun dengan nikel, sebagai komoditas penggerak masa depan yang sangat krusial bagi transisi energi global," ujar Gahari.
Saat ini, Indonesia telah mengukuhkan posisinya dengan mendominasi produksi nikel global lewat penguasaan 67 persen terhadap pangsa pasar global.
Posisi ini diproyeksikan bakal terus berkembang dan semakin kuat, hingga mampu memimpin produksi nikel dunia dengan menguasai 74 persen pangsa pasar pada 2035.
Dari kondisi demikian, dengan peningkatan aktivitas pada kedua komoditas unggulan tersebut, Gahari pun menyebut adanya tren lonjakan kebutuhan operasional secara signifikan di lapangan.
Akibatnya, skala aktivitas pertambangan menjadi jauh lebih masif dan memiliki tingkat kompleksitas teknis yang semakin tinggi.
"Peningkatan kualitas kompleksitas teknis operasional pertambangan modern ini pada akhirnya membuat pemilik tambang tidak dapat menangani semua persoalan secara langsung, sehingga dibutuhkan peran kontraktor jasa pertambangan," ujar Gahari.
Gahari menjelaskan, peran kontraktor jasa pertambangan di tengah ekosistem tambang saat ini terus berkembang dan semakin vital, karena berfungsi sebagai enabler utama yang menjamin terciptanya efisiensi dan produktivitas.
Dalam hal ini, kesuksesan proyek tambang sangat bergantung pada konsistensi dan kualitas eksekusi operasional di lapangan.
"Di industri pertambangan, yang paling menentukan bukan hanya resource, tapi konsistensi eksekusi di lapangan. Karena itu, peran kontraktor jadi semakin penting dalam menjaga produktivitas dan efisiensi operasional," ujar Gahari.
Dengan pemahaman kondisi industri yang demikian, Gahari pun mengaku yakin terhadap prospek industri pertambangan ke depan, dengan tingkat kebutuhan terhadap pasokan energi konvensional yang tetap terjaga, di tengah percepatan program hilirisasi nasional, dengan tingkat pertumbuhan per tahun (CAGR) sekitar delapan persen.
Sehingga, total produksi nikel global diperkirakan mencapai 5,0 juta metrik ton pada 2035. Selain unggul di sektor hulu, Indonesia juga tengah memimpin industri hilirisasi dengan penguasaan 45 persen pada pangsa pengolahan (refining) nikel global.
"Pertumbuhan pesat ini akan meningkatkan kebutuhan industri terhadap mitra kontraktor tambang yang berkualitas. Dengan melihat potensi ini, kami berkomitmen untuk menjaga kualitas operasional serta mempererat kemitraan strategis," ujar Gahari.
Selama delapan tahun berdiri, Gahari menjelaskan, pihaknya selalu fokus pada penyediaan solusi end-to-end, mulai dari fase eksplorasi, produksi, hingga tahap reklamasi.
Operasionalnya tersebar di wilayah strategis (multi-site), mencakup Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Halmahera Timur.
Jangkauan ini mendapat dukungan kemitraan strategis dengan entitas terkemuka seperti Grup Harum Energy, Bukit Asam, dan Grup Petrindo.
"Portofolio kontrak secara berkelanjutan menjadi bukti nyata dari kemahiran kami dalam mengeksekusi project. Saat ini kami mengelola sejumlah kontrak operasional strategis, termasuk kerja sama dengan PT Satria Bahana Sarana di wilayah operasi PT Bukit Asam Tbk," ujar Gahari.
Memasuki 2026, Andalan Artha Primanusa terus memperkuat posisi dengan mengamankan berbagai kontrak baru di sektor operasional batubara., yang mencakup pekerjaan dari PT Daya Bumindo Karunia, PT Intan Bumi Persada, dan PT Arkara Prathama Energi.
Tidak hanya piawai di sektor batu bara, Andalan juga membuktikan fleksibilitas dan kapasitas bisnisnya. Perseroan sukses melakukan diversifikasi ke industri nikel sejak Januari 2026. Hal ini dibuktikan melalui perolehan kontrak pengembangan dan operasi penambangan bersama PT Position di Maluku Utara.
"Seluruh capaian ini selaras dengan fokus utama kami terhadap konsistensi operasional, memegang teguh prinsip bahwa kapabilitas menciptakan keunggulan kompetitif, dan keandalan bermula dari pemeliharaan alat berat," ujar Gahari.
(taufan sukma)