Pemerintah Bidik Investor Australia Masuk Proyek Tol di RI
Kemenko IPK berperan sebagai penghubung antara kebutuhan investor dan proyek-proyek infrastruktur yang disiapkan Pemerintah Indonesia.
IDXChannel - Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) tengah menjajaki ketertarikan investor asal Australia terhadap sejumlah proyek jalan tol.
Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kemenko IPK, Rachmat Kaimuddin, menyampaikan pemerintah telah melakukan pembaruan sekaligus meluncurkan katalog proyek infrastruktur melalui situs resmi Infrastructure Project Facilitation Office (IPFO) pada Desember 2025.
“Pada Desember (2025), kita pernah bikin kegiatan untuk update katalognya. Jadi katalognya sudah kita launch di website. Tadi saya juga sempat bertemu beberapa investor potensial dari Pemerintah Australia dan beberapa pengusaha. Saya sampaikan, Ini katalognya, silakan mana yang tertarik,” kata Rachmat saat ditemui usai acara Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Kemenko IPK berperan sebagai penghubung antara kebutuhan investor dan proyek-proyek infrastruktur yang disiapkan Pemerintah Indonesia. Menurutnya, daftar proyek dalam katalog IPFO mencakup berbagai bidang, mulai dari jalan tol hingga infrastruktur di sektor transportasi.
"Tugas kami kan menjembatani antara investor dan proyek. Proyeknya macam-macam, ada banyak, mulai jalan tol, ada yang berkaitan dengan perhubungan juga," ujar dia.
Adapun mengenai proyek jalan tol yang ditawarkan, merupakan ruas jalan tol baru, bukan kelanjutan dari ruas yang sudah beroperasi.
“Ada banyak, ada berapa puluh (proyek infrastruktur) di situ," ucap Rachmat.
Mengacu pada katalog IPFO kuartal IV-2025, sejumlah proyek jalan tol yang ditawarkan antara lain ruas Pejagan–Cilacap, Sentul Selatan–Karawang Barat, serta Gilimanuk–Mengwi segmen Pekutatan–Soka–Mengwi.
Proyek-proyek tersebut ditawarkan melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (publicprivatepartnership/PPP), baik yang bersifat solicited maupun unsolicited.
Proyek Tol Sentul Selatan–Karawang Barat menjadi yang membutuhkan nilai investasi paling besar dengan estimasi mencapai USD2,13 miliar dan indikasi internal rate of return (IRR) ekuitas sebesar 16,27 persen.
Sementara itu, Ruas Tol Pejagan–Cilacap diproyeksikan memerlukan investasi sekitar USD1,62 miliar, dengan perhitungan IRR yang masih berlangsung.
Sementara proyek Tol Gilimanuk–Mengwi yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) diperkirakan membutuhkan investasi sekitar USD660 juta. Adapun tingkat pengembalian investasinya masih dalam tahap finalisasi seiring dengan penyusunan final business case.
Secara holistik, rangkaian proyek jalan tol tersebut ditawarkan dengan masa konsesi jangka panjang sekitar 40 hingga 50 tahun. Sejumlah proyek juga memerlukan dukungan pemerintah, khususnya dalam hal pembebasan lahan serta pembangunan awal.
(NIA DEVIYANA)