ECONOMICS

Pemerintah Kejar Momentum Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal II-2026

Rohman Wibowo 14/04/2026 07:40 WIB

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada tahun ini sesuai dengan proyeksi sebesar 5,3 persen.

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada tahun ini sesuai dengan proyeksi sebesar 5,3 persen. (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)

IDXChannel - Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada tahun ini sesuai dengan proyeksi sebesar 5,3 persen. Pada tiga bulan pertama, Produk Domestik Bruto (PDB) diproyeksikan tumbuh tinggi imbas momen Ramadan dan Idulfitri yang mendongkrak konsumsi dan belanja pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 akan tetap positif ditopang momentum fundamental ekonomi yang kuat di kuartal I. Sejumlah indikator seperti peningkatan konsumsi rumah tangga hingga realisasi investasi digadang-gadang mempercepat akselerasi perekonomian.

Airlangga menitikberatkan nilai inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Konsumsi rumah tangga selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan dengan kontribusi 54 persen terhadap PDB.

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen an pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis dikutip Selasa (14/4/2026).

Airlangga juga menjelaskan sektor manufaktur masih berada pada fase ekspansi dengan indeks 50,1, yang diikuti cadangan devisa tetap kuat sebesar USD148,2 miliar. Sektor perbankan juga tak lepas disorot, seiring tetap solid dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali.

Tak hanya itu, sumber daya alam ikut mendongkrak pertumbuhan. Terdapat kenaikan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai USD47 miliar turut memberikan natural hedging terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas. 

Dari sisi fiskal, APBN terus berfungsi sebagai bantalan ekonomi melalui penyaluran bantuan pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, dan kompensasi senilai sekitar Rp11,92 triliun. Selain itu, defisit APBN tetap terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.

“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi USD25,6 miliar. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” ujar Airlangga.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE