Pemerintah Perkuat Gudang Bulog, Dukung Pengelolaan Stok Beras Rekor 5,1 Juta Ton
Pemerintah terus memperkuat fondasi stabilitas pangan nasional melalui penguatan infrastruktur penyimpanan seiring meningkatnya Cadangan Beras Pemerintah.
IDXChannel – Pemerintah terus memperkuat fondasi stabilitas pangan nasional melalui penguatan infrastruktur penyimpanan seiring meningkatnya Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang kini telah menembus lebih dari 5,1 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Revitalisasi dan pembangunan gudang Perum Bulog menjadi langkah strategis untuk memastikan kualitas beras tetap terjaga, kapasitas penyimpanan semakin memadai, serta distribusi pangan nasional berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan penguatan kapasitas penyimpanan menjadi semakin penting seiring meningkatnya stok Cadangan Beras Pemerintah.
"Hari ini kami mewakili Bapak Kepala Bapanas dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI. Gudang berkapasitas 3.500 ton ini tentu sangat bermanfaat untuk memperkuat pengelolaan stok pangan pemerintah, khususnya Cadangan Beras Pemerintah, sehingga stabilitas pasokan dan harga pangan dapat terus terjaga," ujar Ketut yang dikutip pada Minggu, (5/7/2026).
Menurut Ketut, pembangunan dan revitalisasi gudang perlu terus dilakukan untuk mengimbangi peningkatan produksi pangan nasional serta memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah. Dengan kapasitas penyimpanan yang semakin besar, sistem logistik pangan nasional diharapkan menjadi lebih tangguh dalam menjaga ketersediaan pasokan.
"Mudah-mudahan gudang-gudang yang lain juga dapat segera diresmikan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga kapasitas penyimpanan pangan nasional semakin kuat dan mampu mendukung pengelolaan cadangan pangan pemerintah secara optimal," katanya.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menilai revitalisasi gudang Bulog menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas penyimpanan nasional agar mampu menampung hasil panen lebih besar dengan kualitas beras yang tetap terjaga.
"Kami ingin melihat langsung berapa stok beras yang tersedia di Kalimantan Selatan, apakah cukup untuk cadangan beras di daerah ini, sekaligus memastikan kualitas berasnya. Alhamdulillah, beras yang tersimpan paling lama baru sekitar empat bulan, sehingga perputaran stok berjalan dengan baik," ujarnya.
Secara nasional, stok Cadangan Beras Pemerintah per awal Juli 2026 telah mencapai lebih dari 5,1 juta ton. Sementara itu, stok beras yang dikelola Perum Bulog di Kalimantan Selatan tercatat mencapai 22.317 ton, yang dinilai mencukupi untuk mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan di wilayah tersebut.
Penguatan infrastruktur penyimpanan juga mendukung efektivitas berbagai program pangan pemerintah. Hingga akhir Juni 2026, realisasi penyaluran bantuan pangan alokasi Februari–Maret di Kalimantan Selatan telah mencapai 7.241 ton beras dan 1,4 juta liter minyak goreng atau terealisasi 100 persen dari pagu yang ditetapkan.
Adapun realisasi penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di provinsi tersebut hingga 1 Juli 2026 telah mencapai 8.337 ton atau sekitar 74 persen dari target 11.266 ton. Di sisi pengadaan, realisasi serapan gabah dan beras mencapai sekitar 8.916 ton atau sekitar 43 persen dari target penugasan sebesar 20.766 ton.
Sebelumnya, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur penyimpanan merupakan solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pangan nasional.
"Ini solusi permanen. Jadi tidak ada lagi alasan harga naik. Kita bangun gudang di seluruh Indonesia dengan anggaran sekitar Rp5 triliun. Ini nanti menjadi induknya, yang mensuplai Koperasi Desa Merah Putih, dengan offtaker yang jelas melalui berbagai program pemerintah. Jadi ini satu kesatuan ekosistem pangan nasional," tegas Amran.
Melalui penguatan infrastruktur penyimpanan, revitalisasi gudang Bulog, dan optimalisasi pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah, pemerintah optimistis stabilitas pasokan dan harga pangan nasional dapat terus terjaga, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan memastikan hasil panen petani terserap secara optimal.
(Shifa Nurhaliza Putri)