Pemerintah Targetkan Investasi Masuk RI Tembus Rp2.322 Triliun di 2027
Investasi tidak hanya dilihat dari besarnya angka realisasi, tetapi juga dari kemampuannya memperkuat fondasi perekonomian nasional.
IDXChannel - Pemerintah menargetkan realisasi investasi pada 2027 mencapai Rp2.322 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Investasi diharapkan berperan sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan P. Roeslani mengatakan kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat. Pada triwulan II 2026, investasi menyumbang sekitar 39 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi nasional.
"Pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen, dan investasi menyumbang kurang lebih 39 persen, biasanya di atas kisaran 28-29 persen," kata Rosan, Sabtu (15/8/2026).
Rosan menambahkan, investasi tidak hanya dilihat dari besarnya angka realisasi, tetapi juga dari kemampuannya memperkuat fondasi perekonomian nasional melalui peningkatan kapasitas produksi.
Dari sisi pengeluaran, investasi pada triwulan II 2026 tumbuh 6,87 persen. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan konsumsi rumah tangga yang tercatat sebesar 5,06 persen.
Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai semakin ditopang oleh pembentukan kapasitas produksi, tidak hanya oleh konsumsi masyarakat.
"Investasi bukan sekadar angka realisasi, tetapi kami terus memastikan investasi yang masuk ke Indonesia dapat menjadi bagian dari penguatan fondasi ekonomi nasional," kata Rosan.
Sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 5,8-6,5 persen, pemerintah menetapkan target realisasi investasi sebesar Rp2.322 triliun. Target tersebut meningkat sekitar Rp280,7 triliun atau 13,75 persen dibandingkan target investasi pada 2026 yang sebesar Rp2.041,3 triliun.
Rosan menjelaskan target investasi 2027 tersebut menjadi bagian dari kebutuhan investasi nasional sepanjang 2025-2029 yang mencapai Rp13.032 triliun.
Kebutuhan investasi tersebut, lanjutnya, bukan merupakan belanja negara. Investasi akan berasal dari penanaman modal yang dilakukan badan usaha, baik dari dalam negeri maupun asing, untuk meningkatkan kapasitas perekonomian nasional.
Selain mengejar peningkatan nilai investasi, pemerintah juga terus mendorong investasi yang memberikan nilai tambah melalui kebijakan hilirisasi. Pada semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.
Realisasi investasi hilirisasi tersebut tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor mineral masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp206,5 triliun.
Investasi mineral tersebut terdiri atas nikel sebesar Rp71 triliun, bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi dan baja Rp30,2 triliun, serta pasir silika Rp5,9 triliun.
Pemerintah juga mulai memperluas hilirisasi ke sektor perkebunan dan kehutanan, minyak dan gas bumi, serta perikanan dan kelautan. Masing-masing mencatat investasi sebesar Rp54,4 triliun, Rp35,4 triliun, dan Rp3,8 triliun.
Ke depan, pemerintah akan mendorong hilirisasi pada komoditas bernilai tambah tinggi lainnya, termasuk semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut.
Rosan mengatakan perluasan hilirisasi penting untuk memastikan investasi tidak hanya meningkatkan nilai nominal penanaman modal, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan memperkuat kapasitas ekonomi di dalam negeri.
(Nur Ichsan Yuniarto)