ECONOMICS

Peraih Nobel Ekonomi Ungkap Kunci Utama RI Bisa Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Tim IDXChannel 14/10/2026 02:00 WIB

Peraih Nobel ekonomi 2024 mengungkapkan sejumlah faktor yang mampu mendorong Indonesia meraih target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Peraih Nobel Ekonomi Ungkap Kunci Utama RI Bisa Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen. (Foto: IDX Channel)

IDXChannel - Pakar sekaligus peraih Nobel ekonomi 2024, James A. Robinson, mengungkapkan sejumlah faktor yang mampu mendorong Indonesia meraih target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Dia menururkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen tidak bisa hanya mengandalkan satu model pembangunan tunggal. Pemaparan ini disampaikan dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Menurut James, berbagai negara mampu mencatatkan pertumbuhan tinggi melalui jalur dan strategi yang berbeda-beda, yang disesuaikan dengan potensi, realitas domestik, serta kekuatan institusi masing-masing. Pertumbuhan dapat diraih melalui akumulasi modal manusia, teknologi, dan inovasi.

"Tidak ada satu model tunggal di antara ekonomi maritim ini. Ada berbagai jenis model yang sangat berbeda," ujar James.

Ia menekankan bahwa kunci utama di balik keberlanjutan pertumbuhan tinggi terletak pada keberadaan institusi ekonomi inklusif. Menurut dia, institusi inklusif mendorong persaingan sehat, mobilitas sosial, serta memberikan ruang bagi bakat dan kreativitas masyarakat.

Sementara itu, jika suatu negara menerapkan institusi ekstraktif maka tercipta pembatasan persaingan, monopoli, dan memelihara praktik political capitalism.

James pun menyebut sejumlah negara yang telah menerapkan institusi ekonomi inklusif. Salah satunya Korea Selatan yang berkembang sukses melalui dukungan konglomerasi, Taiwan dengan sektor usaha kecil dan menengah (UKM), hingga Singapura yang mengandalkan keunggulan geografis serta sektor kepelabuhanan.

Perbedaan jalur tersebut menunjukkan bahwa strategi pembangunan suatu negara harus disesuaikan dengan kondisi dan peluang yang tersedia.

“Untuk menjadi masyarakat yang inovatif, kita perlu membangun sistem institusi yang mampu menggali seluruh talenta terpendam di masyarakat dan memberi mereka jalan untuk naik ke atas. Karena itulah kata inklusif begitu penting” ungkap James.

Lebih lanjut, dia mengatakan pemerintah juga dituntut untuk menetapkan arah kebijakan yang tegas dan melakukan evaluasi secara berkala. Dengan begitu, sebuah negara memiliki tolok ukur kemajuan yang jelas sehingga target pertumbuhan 8 persen berdasarkan langkah-langkah konkret dan terukur di lapangan.

Pemerintah juga harus bersikap pragmatis, berani belajar dari kegagalan kebijakan, serta mampu mengoptimalkan nilai budaya lokal. Berkaca melalui keberagaman Indonesia dengan aset sosial budaya yang kuat dalam prinsip persatuan dan keberagaman dapat melandasi pembangunan ekonomi yang inklusif.

Dengan demikian, tantangan utama bagi Indonesia bukanlah menduplikasi keberhasilan negara lain secara utuh, melainkan merumuskan strategi khas yang selaras dengan kondisi nasional.

Reporter: Birru Aisyah Shabrina

Editor: Febrina Ratna Iskana

SHARE