ECONOMICS

Perkuat Ekosistem Keuangan Berkelanjutan, Mandiri Institute Luncurkan Laporan ESG Implementation 202

Desi Angriani 11/12/2024 17:29 WIB

Transisi menuju pembangunan hijau kini menjadi fokus global dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perkuat Ekosistem Keuangan Berkelanjutan, Mandiri Institute Luncurkan Laporan ESG Implementation 2024 (Foto: dok Mandiri)

IDXChannel - Transisi menuju pembangunan hijau kini menjadi fokus global dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

Dalam acara Mandiri Institute Insight 2024, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Eka Fitra menyampaikan pentingnya kolaborasi dan diskusi lintas sektor untuk menjembatani implementasi ESG (Environmental, Social, and Governance) global dengan kesiapan sektor keuangan dan bisnis di Indonesia.

"Acara ini merupakan hasil kajian yang dilakukan oleh Mandiri Institute berkolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait adopsi ESG sektor swasta di Indonesia dengan tema Bridging the Impact. Kami berterima kasih kepada BEI atas kerja sama yang telah terjalin selama tiga tahun terakhir. Kolaborasi ini telah menghasilkan tiga kajian penting tentang implementasi keberlanjutan di Indonesia sejak 2022," ujar Eka dalam sambutannya, Rabu (11/12/2024).

Sebagai partner Mandiri Institute dalam pembuatan kajian ESG Implementation Report 2024, Direktur Pengembangan Bisnis BEI Jeffrey Hendrik menyebut, BEI bersama dengan OJK dan stakeholders terkait terus berupaya melakukan pengembangan aspek ESG serta sustainability di pasar modal Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing. 

"Kami sangat mengapresiasi inisiatif Bank Mandiri untuk berkolaborasi dengan BEI dalam penyusunan tiga kajian implementasi keberlanjutan sejak 2022," ujar Jeffrey.
 
Di samping itu, sebagai bagian dari tren global menuju ekonomi hijau, Indonesia berkomitmen dalam persiapan COP29 di Baku, Azerbaijan, untuk memastikan pembangunan yang hijau, tangguh, dan inklusif. Indonesia bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca menuju nol pada 2060 atau lebih cepat, serta menghindari 1 miliar ton emisi karbon dioksida.

"Kami memilih tema ini karena melihat perlunya seluruh stakeholders di Indonesia menjembatani tren meningkatnya implementasi ESG pada tingkat global dengan kesiapan sektor swasta dan keuangan untuk beradaptasi. ESG bukan hanya menjadi isu strategis bagi dunia usaha tetapi juga fondasi penting untuk mencapai keberlanjutan ekonomi. Dalam konteks Indonesia, industri perbankan memegang peran penting dalam mendorong transformasi bisnis dan integrasi ESG," jelas Eka.

Sejalan dengan peningkatan komitmen tersebut, Bank Mandiri turut mendukung rencana pemerintah dengan konsisten mendorong kontribusi perseroan terhadap pembiayaan keberlanjutan dan pembiayaan hijau. Hingga kuartal III-2024, Bank Mandiri telah menyalurkan kredit ke sektor berkelanjutan atau sustainable sector sebesar Rp285 triliun, atau 22,9 persen dari total kredit Bank Mandiri.
 
Dari nilai tersebut, pembiayaan ke sektor hijau Bank Mandiri telah menembus Rp142 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 11,4 persen dari total penyaluran kredit Bank Mandiri di kuartal III-2024. Tidak hanya dari sisi pembiayaan, Bank Mandiri juga secara konsisten telah mengadopsi praktik-praktik ESG secara lebih luas, termasuk di dalam operasional perusahaan.
 
Laporan ESG Implementation 2024
 
Dalam diskusi ini, Bank Mandiri meluncurkan laporan ESG Implementation 2024, yang merupakan hasil riset kolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia. Laporan ini memberikan gambaran implementasi ESG di perusahaan tercatat dan tidak tercatat, serta menyoroti tantangan dan peluang dalam keuangan berkelanjutan di Indonesia.
 
Beberapa temuan utama dalam laporan ini meliputi:

 
“Laporan ini turut menyoroti bahwa mayoritas perusahaan tercatat (87 persen) mengadopsi ESG untuk meningkatkan nilai perusahaan, sementara 80 persen terdorong oleh kebijakan pemerintah. Temuan ini menegaskan perlunya regulasi yang terstruktur untuk mempercepat implementasi ESG, sejalan dengan tren regional dan global,” kata Head of Mandiri Institute Andre Simangunsong.
 
Di sisi lain, pasar karbon Indonesia difokuskan pada strategi bertahap yang mencakup pasar karbon wajib, pasar karbon sukarela, dan pajak karbon. Pajak karbon yang direncanakan mulai diterapkan pada 2025 menjadi prioritas utama untuk memperkuat ekosistem pasar karbon. Strategi ini diharapkan mampu mendukung integrasi sistem perdagangan emisi pada 2025, sekaligus meningkatkan efisiensi dan efektivitas pasar karbon sukarela.

(DESI ANGRIANI)

SHARE