ECONOMICS

Perkuat Ketahanan Energi, Keberlanjutan Rantai Pasok Jadi Penentu Keberhasilan B50

Nia Deviyana 13/07/2026 17:42 WIB

Peluncuran B50 menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor solar.

Perkuat Ketahanan Energi, Keberlanjutan Rantai Pasok Jadi Penentu Keberhasilan B50. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel – Peluncuran bahan bakar biodiesel B50 dinilai menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Kebijakan ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sumber daya dalam negeri.

“Implementasi B50 merupakan langkah yang sangat penting karena semakin tinggi porsi biodiesel dalam campuran, semakin besar pula penurunan konsumsi solar berbasis fosil. Dampaknya tidak hanya mengurangi impor BBM, tetapi juga memperkuat ketahanan energi karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri dan dapat diproduksi secara berkelanjutan,” ujar Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).

Ali menjelaskan bahwa kenaikan komposisi biodiesel dari B40 menjadi B50 bukan sekadar peningkatan 10 persen secara nominal. Dari sisi volume, kata dia, tambahan tersebut memberikan pengurangan konsumsi solar yang signifikan sehingga berpotensi menekan impor bahan bakar minyak yang selama ini masih dibutuhkan Indonesia.

Menurut Ali, pengalaman implementasi B20, B30, hingga B40 menjadi modal penting dalam penerapan B50. Berdasarkan hasil pengamatannya di berbagai terminal BBM dan fasilitas produsen biodiesel di Indonesia, alumnus UI ini menilai kesiapan infrastruktur pencampuran (blending) sudah cukup baik.

Dia menyebut Pertamina memiliki pengalaman dan kapasitas yang memadai untuk mengelola implementasi B50, meski peningkatan kapasitas dan kualitas fasilitas tetap perlu dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan biodiesel.

Meski demikian, Ali mengingatkan bahwa keberhasilan B50 tidak hanya ditentukan oleh kesiapan infrastruktur distribusi, tetapi juga oleh keberlanjutan rantai pasok biodiesel. Dia berharap pemerintah memastikan ketersediaan bahan baku pendukung produksi biodiesel, seperti metanol dan bahan kimia lainnya, yang menjadi komponen penting dalam proses pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel.

Ali menilai pemerintah perlu mulai mengantisipasi tingginya tingkat utilisasi pabrik biodiesel nasional yang saat ini telah mencapai lebih dari 80 persen. Kondisi tersebut membuat ruang peningkatan produksi semakin terbatas sehingga pengembangan kapasitas pabrik baru maupun pengaturan kembali alokasi produksi perlu dipersiapkan sejak dini.

Selain memastikan kecukupan pasokan, Ali menyoroti pentingnya pembenahan sistem distribusi agar biaya logistik biodiesel dapat ditekan. Menurutnya, pola distribusi yang lebih efisien akan menjaga harga biodiesel tetap kompetitif sekaligus mempertahankan kualitas produk hingga diterima masyarakat.

“Ke depan tantangan terbesar bukan lagi pada pencampuran B50, melainkan bagaimana menjamin pasokan biodiesel, memperkuat distribusi, mengatur mekanisme pengadaan, serta menjaga kualitas produk di seluruh rantai pasok. Jika empat aspek tersebut dapat dikelola dengan baik, maka B50 akan menjadi fondasi penting dalam strategi diversifikasi energi nasional menuju kemandirian energi," ujar Ali.

(NIA DEVIYANA)

SHARE