ECONOMICS

PMI Manufaktur Indonesia Melambat pada Maret 2026 Imbas Perang Timur Tengah

Wahyu Dwi Anggoro 01/04/2026 10:19 WIB

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari S&P Global tercatat di posisi 50,1 pada Maret 2026, turun dari 53,8 di bulan sebelumnya.

PMI Manufaktur Indonesia Melambat pada Maret 2026 Imbas Perang Timur Tengah. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia  dari S&P Global tercatat di posisi 50,1 pada Maret 2026, turun dari 53,8 di bulan sebelumnya.

Angka di atas 50 menunjukkan pertumbuhan, sementara skor di bawah 50 mengindikasikan penyusutan.

Laporan dari para responden menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah berdampak pada harga dan pasokan bahan baku, yang ujungnya mengganggu permintaan serta produksi barang manufaktur.

Selain itu, kondisi secara keseluruhan yang masih lemah menyebabkan perlambatan aktivitas pembelian, tumpukan pekerjaan, dan ketenagakerjaan kembali terjadi. Kepercayaan bisnis sedikit meningkat, namun tetap berada di bawah rata-rata jangka panjang.

"Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah. Bukti anekdotal menunjukkan bahwa perang menyebabkan tekanan signifikan pada harga dan pasokan bahan baku, berdampak pada produksi dan permintaan, serta mendorong inflasi biaya ke level tertinggi dalam dua tahun," kata Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam pernyataannya pada Rabu (1/4/2026).

Data menunjukkan penurunan baru pada tingkat produksi setelah empat bulan bertumbuh dan kenaikan besar pada Februari. Panelis melaporkan bahwa penurunan tersebut umumnya mencerminkan kelangkaan pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian dipengaruhi oleh perang di Timur Tengah serta gejolak perekonomian global.

Pada saat yang sama, volume permintaan baru melambat untuk pertama kali dalam delapan bulan pada Maret. Penurunan hanya pada kisaran marginal, namun menggambarkan perubahan besar dari ekspansi besar-besaran pada periode survei sebelumnya.

"Perusahaan manufaktur tetap percaya diri bahwa output akan naik pada tahun ini. Meski demikian, data Maret menyoroti kerentanan sektor manufaktur Indonesia terhadap  perang, khususnya dari sisi harga dan pasokan," ujarnya. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE