ECONOMICS

PMI Manufaktur RI Kembali ke Fase Ekspansi, Pengusaha Masih Wait and See untuk Investasi

Febrina Ratna Iskana 04/08/2026 09:53 WIB

Saleh Husin menyebut pengusaha masih menunggu beberapa bulan setelah PMI pulih untuk investasi. Sebab, biaya bahan baku naik dan permintaan ekspor melemah.

PMI Manufaktur RI Kembali ke Fase Ekspansi, Pengusaha Masih Wait and See untuk Investasi. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026, tercermin dari kenaikan PMI Manufaktur Indonesia ke level 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni 2026. Meski begitu, pengusaha masih wait and see melihat kondisi manufaktur dalam beberapa bulan ke depan untuk melakukan investasi.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menilai kenaikan PMI ke 50,2 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah terkontraksi pada Juni. Namun, PMI merupakan indikator jangka pendek, sehingga capaian satu bulan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa industri telah memasuki tren pemulihan yang kuat.

“Diperlukan konsistensi ekspansi dalam beberapa bulan ke depan serta dukungan indikator lain, seperti output industri, utilisasi kapasitas, dan investasi. Dibandingkan negara ASEAN, posisi Indonesia telah membaik, tetapi laju ekspansinya masih relatif moderat dibandingkan beberapa negara yang mencatat ekspansi lebih tinggi,” kata Saleh dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).

Lebih lanjut, Saleh membeberkan perbaikan aktivitas manufaktur terutama didorong oleh meningkatnya produksi dan membaiknya permintaan domestik sehingga pesanan baru kembali bertambah. Namun, pemulihan tersebut masih dihadapkan pada kenaikan biaya bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, dan sikap pelaku usaha yang masih berhati-hati dalam melakukan pembelian bahan baku.

“Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan belum merata dan masih memerlukan penguatan dari sisi permintaan,” tuturnya.

Dengan kondisi tersebut, Saleh mengatakan para pengusaha belum dapat mengambil rencana investasi hanya berdasarkan PMI Juli 2026. Menurutnya, sebagai indikator jangka pendek, PMI lebih mencerminkan kondisi aktivitas bisnis saat ini dibandingkan keputusan investasi yang bersifat jangka panjang.

Dia mengatakan pelaku usaha diperkirakan masih akan mencermati keberlanjutan tren permintaan dalam beberapa bulan ke depan sebelum melakukan ekspansi kapasitas atau investasi baru. “Oleh karena itu, diperlukan rangkaian data PMI dan indikator ekonomi lainnya untuk memastikan bahwa pemulihan benar-benar berkelanjutan,” ujar Saleh. (Febrina Ratna Iskana)

SHARE