ECONOMICS

Produk Turunan Sawit Jadi Andalan UMKM untuk Naik Kelas

Rahmat Fiansyah 27/10/2026 05:15 WIB

Pelaku UMKM memiliki peluang mengembangkan produk ekonomi kreatif bernilai tambah tinggi berbahan dasar minyak sawit dan turunannya.

Pelaku UMKM memiliki peluang mengembangkan produk ekonomi kreatif bernilai tambah tinggi berbahan dasar minyak sawit dan turunannya. (Foto: Ist)

IDXChannel - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Malang memiliki peluang mengembangkan produk ekonomi kreatif bernilai tambah tinggi berbahan dasar minyak sawit dan turunannya. Terdapat sekitar 200 jenis produk turunan sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan beragam produk, mulai dari makanan dan kerajinan tangan hingga batik.

Potensi tersebut diangkat dalam Pekan Jurnalis dan UMKM Sawit 2026 bertema “Menyuarakan Narasi Sawit Baik Bersama Media dan UMKM” di Malang, Jumat (23/10/2026). Kegiatan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) ini mempertemukan insan pers dan pelaku UMKM sekaligus memperkenalkan potensi produk turunan sawit untuk mengembangkan usaha lokal.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang menjadikan Kota Malang sebagai pusat edukasi mengenai industri sawit dan UMKM. Apresiasi tersebut disampaikan melalui sambutan yang dibacakan Kepala Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Farid Suaidi.

“Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini, yang saya nilai sebagai ruang untuk memperkuat komunikasi, memperluas wawasan, dan membangun pemahaman masyarakat mengenai industri kelapa sawit,” ujarnya.

Wahyu menekankan bahwa edukasi publik mengenai sawit sebagai komoditas strategis nasional membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurut dia, industri sawit berperan dalam menggerakkan perekonomian, termasuk sektor UMKM. Karena itu, pelaku usaha perlu terus berinovasi, memperluas pasar, dan menciptakan peluang ekonomi baru. Forum tersebut juga menjadi sarana edukasi mengenai kualitas, keamanan, dan manfaat produk oleofood berbasis sawit.

Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah mengatakan kelapa sawit menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia. Komoditas ini berkontribusi sekitar 9 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional, sekaligus berperan dalam hilirisasi energi dan penyerapan jutaan tenaga kerja. Menurut dia, jurnalis memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi mengenai kontribusi sawit dan peluang pemanfaatannya oleh pelaku UMKM.

Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri menjelaskan, potensi kelapa sawit tidak terbatas pada produk utama, tetapi juga mencakup sekitar 200 produk turunan untuk kebutuhan pangan dan nonpangan. Produk tersebut antara lain minyak goreng, margarin, krimer, dan pengganti lemak kakao atau cocoa butter substitute yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri maupun UMKM.

Qayuum menilai kolaborasi media dan pelaku UMKM dapat memperluas pemasaran produk sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat kelapa sawit. “Harapan kami, kita bisa saling mendukung dan tumbuh bersama, baik pelaku UMKM maupun teman-teman media, agar Kota Malang semakin dikenal masyarakat dan dunia,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) Markus Susanto mengatakan, sejumlah produk UMKM memanfaatkan bahan oleokimia turunan sawit, seperti asam lemak (fatty acid), soap noodle, dan gliserin. Bahan tersebut digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari sabun, kosmetik, sampo, dan deterjen hingga produk perawatan tubuh.

“Saat ini, produk oleokimia hampir 70 persen memenuhi pangsa pasar ekspor dan 30 persen dipakai untuk kebutuhan dalam negeri. Kontribusinya bagi devisa ekspor mencapai 5 miliar sampai 6 miliar dolar AS per tahun,” kata Markus.

Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian Prof. Dr. Ir. Susinggih Wijana, MS, menambahkan bahwa produk samping dan limbah sawit juga berpotensi menjadi bahan baku usaha. Pemanfaatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni mengolah kembali limbah agar memiliki nilai ekonomi. UMKM, misalnya, dapat mengolah limbah sawit menjadi bahan baku pakan ternak atau memproduksi sabun dalam skala kecil hingga menengah menggunakan turunan sawit.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Majalah Sawit Indonesia bersama pelaku UMKM di Kota Malang mengunjungi UKM Clemat Clemut pada Sabtu (24/10/2026). Usaha tersebut mengembangkan kue sus kering atau melting soes dengan beragam varian rasa. Pemilik Clemat Clemut, Rully Heri Siswoyo, membagikan pengalamannya mengembangkan produk sejak 2024 hingga memperluas penerimaan pasar.

“Clemat Clemut hadir dengan berbagai rasa mulai dari cokelat, keju, dan apel. Selain itu, ada juga soes sayur yang baru saja dirilis dengan target pasar ekspor dan kebutuhan diet. Total produksi kami mencapai 2 ton per bulan untuk keseluruhan produk. Produk terpopuler adalah melting soes. Pemasaran sudah se-Indonesia kecuali Papua yang sedang dijajaki penjualannya,” ujar Rully.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE