ECONOMICS

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Semester II-2026 dari CGSI

TIM RISET IDX CHANNEL 07/08/2026 06:15 WIB

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Semester II-2026 dari CGSI. (Foto: Magnific)

IDXChannelPertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026 atau tumbuh 5,4 persen secara kumulatif pada semester pertama tahun ini.

Meski dinilai masih cukup tangguh di tengah ketidakpastian global, Ekonom CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) Wisnu Trihatmojo memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi lebih moderat pada semester II-2026 seiring mulai melambatnya dorongan belanja pemerintah.

Dalam riset bertajuk Fiscal Impulse to Moderate in 2H26F yang diterbitkan pada 5 Agustus 2026, Wisnu menjelaskan belanja pemerintah menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pada semester pertama.

Namun, berdasarkan outlook APBN Kementerian Keuangan, pertumbuhan belanja pemerintah pada semester II-2026 diperkirakan melambat menjadi sekitar 11 persen secara tahunan dari 18 persen pada semester pertama.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengurangi momentum pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.

Pada kuartal II-2026, perlambatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh melemahnya permintaan domestik dan perdagangan.

Konsumsi rumah tangga melandai setelah periode hari raya, terutama pada kelompok makanan dan minuman, transportasi, serta pakaian.

Di sisi lain, investasi tetap tumbuh kuat meski menghadapi basis yang tinggi tahun lalu, ditopang pembangunan gedung dan pembelian kendaraan.

Kontribusi belanja pemerintah juga masih menjadi penopang pertumbuhan, meski tidak sebesar pada kuartal pertama.

Sementara itu, perdagangan luar negeri menjadi faktor pengurang pertumbuhan seiring meningkatnya impor dan lonjakan harga minyak.

CGSI memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal II-2026 mencapai sekitar 3,2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dari sisi lapangan usaha, sektor manufaktur kembali melambat untuk kuartal keempat berturut-turut.

Pelemahan terutama terjadi pada industri batu bara, yang diduga dipengaruhi kuota produksi, pengilangan minyak dan gas, serta logam dasar.

Sebaliknya, sektor konstruksi, akomodasi, serta penyediaan makanan dan minuman mencatat pertumbuhan lebih baik yang diperkirakan didorong program Koperasi Desa (Kopdes) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di sisi lain, PDB nominal justru tumbuh lebih cepat menjadi 10,2 persen secara tahunan. Menurut CGSI, kondisi tersebut sejalan dengan membaiknya laba bersih inti perusahaan pada kuartal II-2026.

“Secara keseluruhan, kami menilai pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 masih cukup tangguh di tengah tingginya ketidakpastian, meski diperkirakan akan semakin moderat pada periode mendatang,” tulis Wisnu.

Meski memperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih moderat pada paruh kedua 2026, CGSI tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 sebesar 5,3 persen, lebih tinggi dibanding realisasi 2025 sebesar 5,1 persen.

Wisnu menilai pelemahan dorongan fiskal perlu diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja yang berkualitas agar konsumsi rumah tangga dapat meningkat secara berkelanjutan.

Namun, sentimen pasar tenaga kerja mulai melemah. Indeks kepercayaan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja pada Juni 2026 mendekati level 100.

Sementara, pelaku usaha juga mulai mewaspadai berbagai risiko pada semester kedua, seperti El Nino, pelemahan daya beli, nilai tukar, likuiditas, hingga ketidakpastian geopolitik.

Meski demikian, CGSI menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan tetap bertahan di atas 5 persen berkat berbagai stimulus yang tengah disiapkan pemerintah.

Stimulus tersebut diperkirakan mencakup upaya menjaga daya beli masyarakat, penambahan likuiditas, serta insentif untuk mendorong konsumsi.

Dalam jangka pendek, pemerintah berencana meningkatkan volume bantuan beras sebesar 50 persen pada semester II-2026 dibandingkan kuartal pertama.

Selain itu, Kementerian Keuangan juga tengah mempertimbangkan perpanjangan fasilitas likuiditas senilai Rp200 triliun bagi bank-bank BUMN hingga 2027 serta pemberian insentif kendaraan listrik (EV).

Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan, tetapi melanjutkan pelonggaran kebijakan makroprudensial melalui berbagai insentif likuiditas (KLM). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE