Purbaya Laporkan Defisit APBN Rp196,5 Triliun di Semester I-2026
Angka defisit ini setara dengan 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga penutupan Semester I-2026 mencatatkan defisit sebesar Rp196,5 triliun. Angka defisit ini setara dengan 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN tersebut naik jika disandingkan dengan posisi defisit per Mei 2026 yang berada di angka Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB. Kendati demikian, secara tahunan, performa defisit anggaran ini justru mengalami penurunan 3,8 persen dari posisi Semester I-2025 yang menyentuh 0,84 persen terhadap PDB.
"Defisit APBN semester I (2026) tercatat sebesar Rp196,5 triliun dengan presentasi sebesar 0,76 persen terhadap PDB, kondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN tetap dijaga dalam batas aman dan terkendali," kata Purbaya dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Dari pos penerimaan, pemerintah membukukan pendapatan negara Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari total target APBN 2026 yang dipatok Rp3.153,6 triliun. Secara tahunan (year-on-year/yoy), realisasi pendapatan tersebut melonjak 21,4 persen.
Purbaya menguraikan bahwa gairah pendapatan negara ini didorong kuat oleh peningkatan roda aktivitas ekonomi riil serta perbaikan manajemen tata kelola pada pintu-pintu penerimaan negara.
"Kinerja pendapatan dipengaruhi oleh peningkatan akses ekonomi, peningkatan pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan kementerian lembaga dan BLU," jelasnya.
Secara kumulatif, pendapatan negara terdiri atas Penerimaan Perpajakan mencapai Rp1.187,8 triliun, atau setara 44,1 persen dari target APBN dan mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 21,4 persen. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp271 triliun atau telah memenuhi 59 persen dari target APBN, naik 21,6 persen secara tahunan.
Purbaya memberikan catatan tebal pada performa sektor pajak murni yang melesat hingga 24,6 persen selama enam bulan pertama tahun ini. Tren positif ini membalikkan situasi sulit pada periode yang sama tahun lalu yang sempat terperosok ke zona negatif.
"Kalau kita lihat penerimaan pajak saja itu tumbuhnya 24,6 persen Ini perkembangan yang mengembirakan mengingat tahun lalu kontraksi 7 persen di 6 bulan pertama," kata Purbaya.
Lompatan performa ini dinilai menjadi bukti sahih bahwa roda transformasi birokrasi dan pembenahan tata kelola organisasi pada otoritas perpajakan mulai membuahkan hasil nyata.
"Jadi reformasi perpajakan dan reformasi perpajakan sudah memberikan hasil yang cukup menjanjikan, saya pikir ke depannya akan terus membaik," kata Purbaya.
Di sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga akhir Juni 2026 telah terserap Rp1.656 triliun, atau mencakup 43,1 persen dari pagu anggaran tahunan. Realisasi belanja ini meningkat 17,8 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Secara spesifik, alokasi Belanja Pemerintah Pusat (BPP) telah sebesar Rp1.296,8 triliun. Angka ini mencerminkan tingkat serapan sebesar 41,2 persen dari pagu anggaran serta mencatatkan akselerasi pertumbuhan tahunan hingga 29,4 persen.
Melalui bauran performa fiskal tersebut, catatan keseimbangan primer APBN Indonesia hingga pertengahan tahun ini sukses mengamankan surplus sebesar Rp85,1 triliun.
Sementara itu, untuk pos realisasi pembiayaan anggaran, pemerintah telah mengeksekusi dana sebesar Rp452 triliun, atau setara dengan 65,6 persen dari target total yang ditetapkan dalam APBN 2026.
(NIA DEVIYANA)