ECONOMICS

Purbaya Tepis Rupiah Melemah Gara-Gara APBN, Ungkap Defisit hingga Mei di Level 0,7 Persen

Anggie Ariesta 03/06/2026 21:14 WIB

Kementerian Keuangan menepis isu bahwa pengelolaan APBN yang tidak kredibel menjadi penyebab kurs rupiah terus tertekan terhadap dolar AS.

Kementerian Keuangan menepis isu bahwa pengelolaan APBN yang tidak kredibel menjadi penyebab kurs rupiah terus tertekan. (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)

IDXChannel - Kementerian Keuangan menepis isu bahwa pengelolaan APBN yang tidak kredibel menjadi penyebab kurs rupiah terus tertekan terhadap dolar AS. Hingga Rabu (3/6/2026), kurs rupiah nyaris mendekati level psikologis baru Rp18.000 per dolar AS.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa membantah tudingan bahwa melemahnya rupiah karena kebijakan fiskal bermasalah. Dia justru mengungkapkan, kondisi APBN saat ini semakin baik dan sehat, tercermin dari defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus menyempit.

"Enggak ada (hubungannya). Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang (rupiah melemah) gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti kita ketemu kapan? Minggu depan? Ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik dibanding bulan April," katanya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Purbaya membocorkan bahwa angka defisit APBN hingga Mei 2026 masih terjaga di level 0,7 persen terhadap PDB. Angka ini masih terkendali mengingat defisit pada April berada di level 0,64 persen dan Maret berada di kisaran 0,93 persen.

"Kalau saya kasih bocoran, itu defisitnya tinggal 0,7 (persen) dalam 5 bulan. Kalau kita hitung cara para ekonom yang di luar itu menghitung, sekian bulan kali sekian bulan saya hitung, ikutin aja. 12 per 5 kali 0,7 (persen) kira-kira, kalau saya enggak salah hitung ya, (akhir tahun) 1,7-1,8 persen dari PDB. Jadi kalau di situ anggaran kita aman sekali. Cuma orang enggak akan pakai itu kan sekarang. Pasti mereka akan lihat yang paling jelek," katanya.

Selain defisit, Purbaya juga menyebut, keseimbangan primer hingga Mei 2026 kembali surplus. Hal ini tidak terlepas dari pendapatan negara yang terus tumbuh.

"Bulan Mei juga surplusnya, primary surplusnya positif lagi, lebih tinggi dibanding bulan April dan pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22 persen lebih. Jadi reformasi di perpajakan sudah menghasilkan peningkatan pendapatan perpajakan yang amat signifikan, sehingga anggaran kita amat aman," tuturnya.

Ketua LPS periode 2020-2025 itu menilai, pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh rumor yang bergerak liar. Salah satu rumor yang beredar yakni adanya instruksi agar  perbankan nasional segera melakukan stress test (uji ketahanan) menghadapi skenario rupiah di atas Rp18.000. Purbaya secara langsung membantah spekulasi tersebut.

"Kalau kita lihat kan tiba-tiba aja pelemahannya 1-2 hari ini kan, arena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif," katanya.

Menghadapi situasi tersebut, Purbaya menegaskan fokus utamanya saat ini adalah memperkuat fondasi riil perekonomian domestik demi menyokong stabilitas mata uang dalam jangka panjang.

"Tapi kalau kita lihat  kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi aja, supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat, karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya. Jadi untuk saya fokusnya di situ," kata Purbaya.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE