Rampingkan 1.074 Entitas, Danantara Targetkan BUMN Tersisa Kurang dari 200 Perusahaan
Langkah perampingan ini ditempuh untuk mengikis inefisiensi, menertibkan unit usaha yang merugi, serta menghentikan tumpang tindih portofolio antarentitas.
IDXChannel - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memastikan restrukturisasi dan konsolidasi besar-besaran terhadap 1.074 entitas anak dan cucu usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan memangkas jumlah perseroan hingga tersisa di bawah 200 perusahaan.
Langkah perampingan ini ditempuh untuk mengikis inefisiensi, menertibkan unit usaha yang merugi, serta menghentikan tumpang tindih portofolio antarentitas pelat merah.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria menyatakan pemerintah telah menyusun peta jalan transformasi lima tahun untuk menyortir seluruh portofolio BUMN ke dalam empat kerangka aksi korporasi strategis. Skema pembenahan terstruktur ini diarahkan untuk menyehatkan postur bisnis negara yang selama ini terlalu gemuk dan membebani kinerja keuangan.
"Dari hasil pemetaan, 1.074 perusahaan kami kelompokkan ke dalam empat kotak strategi mulai dari merger, penutupan, restrukturisasi finansial, hingga divestasi. Target akhirnya Danantara nantinya hanya akan memiliki kurang dari 200 perusahaan BUMN," ujar Dony dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF), Senin (26/10/2026).
Dony merinci, ada empat bagian dalam skema besar Danantara. Pertama berkaitan soal konsolidasi atau merger. Terdapat sekitar 200 entitas yang dilebur berdasarkan kesamaan bidang usaha. Pengelompokan ini mencakup penyatuan 23 kawasan industri menjadi satu entitas, lima pengelola aset/investasi menjadi satu, 60 rumah sakit disatukan di bawah satu induk, serta 120 hotel ke dalam satu payung usaha.
Di sektor jasa keuangan, 16 perusahaan asuransi dikurangi menjadi tiga entitas saja yakni asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit, sementara perusahaan sekuritas disederhanakan menjadi dua perusahaan, dengan target tuntas sepenuhnya pada akhir tahun ini.
Sebaliknya, pada bagian kedua, menyoal likuidasi atau penutupan. Sebanyak 213 perusahaan yang tidak produktif akan dibubarkan secara permanen, termasuk rencana penutupan 50 anak/cucu usaha Telkom serta 124 entitas di bawah naungan Pertamina.
Adapun bagian ketiga, kata Dony, mencakup restrukturisasi finansial mendalam bagi 15 BUMN yang tengah memulihkan kesehatan kas, seperti Krakatau Steel, Kimia Farma, dan Garuda Indonesia.
Sementara pada bagian keempat, Dony menjelaskan bahwa hampir 208 perusahaan yang bergerak di luar bisnis inti (non-core) akan didivestasi, seperti kepemilikan jaringan serat optik dan hotel pada BUMN karya atau unit usaha berskala terlampau kecil.
Langkah rasionalisasi berskala masif ini diklaim menjadi operasi penyelamatan korporasi terbesar yang pernah dijalankan dalam sejarah pengelolaan BUMN. Percepatan penertiban perusahaan-perusahaan yang menguras kas negara terus digenjot untuk menyaring entitas yang benar-benar produktif.
"Hingga hari ini, Danantara telah berhasil merampingkan dan menutup 364 perusahaan BUMN yang merugi atau tidak efisien. Ini merupakan restrukturisasi korporasi terbesar yang pernah dilakukan di dunia, dari 1.074 perusahaan disederhanakan hingga nantinya di bawah 200 perusahaan," kata Dony.
Selain menyederhanakan jumlah badan hukum, pembenahan selama 1 tahun 8 bulan terakhir difokuskan pada perombakan model bisnis. Pada BUMN pupuk bersubsidi, skema lama cost-plus yang menanggung biaya produksi pemerintah ditambah marjin 7 persen sehingga memicu pemborosan diubah total menjadi mekanisme berbasis harga pasar (mark-to-market).
Hasilnya, Pupuk Indonesia mampu membangun delapan pabrik baru, menekan biaya, mempertebal marjin, serta mendongkrak laba bersih lebih dari 200 persen dalam enam bulan. Kinerja positif serupa ditunjukkan Semen Indonesia dengan lonjakan laba bersih 427 persen pascareformasi model bisnis, disusul perbaikan performa solid di tubuh Danareksa dan PTPN III.
Di sektor energi, integrasi dilakukan dengan menggabungkan tiga anak usaha hilir Pertamina, yakni Pertamina Patra Niaga, Pertamina International Shipping (PIS), dan Kilang Pertamina Internasional (KPI). Peleburan ini secara efektif menghapus praktik transaksi bertingkat yang saling mengambil keuntungan antarsesama anak usaha di internal grup.
Integrasi lini hilir minyak dan gas tersebut terbukti memangkas rantai pasok logistik yang selama ini menjadi sumber pemborosan anggaran operasional. Efisiensi struktural ini memberikan ruang penghematan devisa dalam jumlah besar bagi kas entitas energi pelat merah tersebut.
"Di Pertamina, kami menggabungkan Patra Niaga, Pertamina International Shipping, dan Kilang Pertamina Internasional menjadi satu kesatuan bisnis hilir terintegrasi serta menghapus praktik saling bertransaksi antar-anak usaha. Hasilnya, Pertamina mampu menghemat 1 miliar dolar AS hanya dalam tempo enam bulan," tutur Dony.
Dony menegaskan proses transformasi ini dikomandoi langsung secara internal tanpa menggunakan jasa konsultan eksternal, melalui sedikitnya 12 pertemuan evaluasi harian guna membedah persoalan perseroan satu per satu.
Di sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sukses menekan biaya dana (cost of fund) serta menyeimbangkan portofolio kredit, didampingi pembenahan solid di tubuh Bank Mandiri. Bersama direktur utama yang baru, Danantara saat ini juga tengah memulai transformasi besar-besaran di tubuh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, mencakup efisiensi sektor pembangkitan, keandalan transmisi-distribusi, hingga penataan struktur tarif listrik.
Berbagai pembenahan menyeluruh dari hulu ke hilir kini mulai memperlihatkan lintasan pertumbuhan laba yang sehat bagi keuangan konsolidasi BUMN. Manajemen optimistis transformasi tata kelola ini akan mengembalikan peran BUMN sebagai kontributor dividen utama bagi pembangunan nasional.
"Kini seluruh perusahaan BUMN berada dalam lintasan kinerja yang sangat positif. Tahun ini, kami menargetkan laba bersih konsolidasi BUMN mencapai Rp360 triliun atau lebih dari 20 miliar dolar AS," ujar Dony.
(NIA DEVIYANA)