ECONOMICS

RI-AS Perkuat Kemitraan Ekonomi, Airlangga Bidik Kesepakatan Bisnis USD33 Miliar

Rohman Wibowo 28/10/2026 14:28 WIB

Pemerintah memperkuat kemitraan ekonomi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengerek pertumbuhan nasional melalui pemanfaatan peluang bisnis yang konkret.

RI-AS Perkuat Kemitraan Ekonomi, Airlangga Bidik Kesepakatan Bisnis USD33 Miliar. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Pemerintah memperkuat kemitraan ekonomi dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengerek pertumbuhan nasional melalui pemanfaatan peluang bisnis yang konkret. Penguatan kolaborasi bilateral ini difokuskan pada peningkatan volume perdagangan, ekspansi penanaman modal, serta pengembangan sektor-sektor strategis demi mendongkrak nilai tambah dan memperdalam integrasi industri kedua negara.

Arah penguatan relasi dagang tersebut dibahas secara mendalam dalam pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Presiden sekaligus CEO US-ASEAN Business Council (US-ABC), Ambassador Brian D. McFeeters, Selasa (27/10/2026).

Airlangga menilai dinamika hubungan bisnis antara Indonesia dan Negeri Paman Sam berada dalam tren yang sangat prospektif. Optimisme tersebut berpijak pada data perdagangan bilateral periode Januari hingga Agustus 2026 yang menembus USD32,34 miliar atau melesat 11,82 persen secara tahunan (year-on-year). 

Kinerja ini sekaligus mengukuhkan posisi AS sebagai pasar tujuan ekspor terbesar kedua bagi komoditas nasional.

Di sisi permodalan, aliran investasi dari korporasi AS ke Tanah Air sepanjang triwulan I hingga triwulan III 2026 telah menyentuh angka USD3,4 miliar. Realisasi penanaman modal ini meningkat dibandingkan capaian sekitar USD3 miliar pada periode sepanjang 2025, sekaligus menempatkan AS sebagai investor asing terbesar keempat di Indonesia.

"Saya juga senang dengan investasi AS, yang mencapai USD3,4 miliar dalam tiga kuartal terakhir, sehingga AS kini menjadi investor terbesar keempat di Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Rabu (28/10/2026).

Dalam forum tersebut, Airlangga menyerap berbagai aspirasi dan masukan dari delegasi US-ABC mengenai dinamika kegiatan operasional serta tantangan yang dihadapi korporasi asal AS di Tanah Air. Pertemuan ini menghadirkan perwakilan dari beragam lini bisnis strategis, mulai dari sektor teknologi digital, manufaktur, layanan kesehatan, industri barang konsumen, hingga industri kedirgantaraan.

Menanggapi masukan tersebut, Airlangga menguraikan fokus pemerintah yang tengah memacu laju pertumbuhan ekonomi nasional agar mencapai level 8 persen pada 2029. 

Target ambisius tersebut ditopang delapan strategi utama, yakni pencapaian swasembada pangan, industrialisasi berorientasi ekspor, pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, akselerasi ekonomi hijau dan biru, penataan pembangunan perkotaan, percepatan transformasi digital, penggenjotan investasi, serta peningkatan belanja pemerintah yang produktif. 

Seluruh pilar tersebut dikawal melalui pemangkasan regulasi atau deregulasi serta bauran kebijakan fiskal dan moneter yang disiplin. Implementasi agenda prioritas tersebut membuka ruang investasi yang sangat lebar, khususnya di bidang manufaktur bernilai tambah, teknologi digital, kecerdasan buatan, dan transisi energi. 

Pemerintah, kata Airlangga, turut mendorong pola kemitraan yang mampu mentransfer teknologi maupun keahlian manajerial demi memperkokoh keterkaitan rantai pasok industri domestik.

Pada industri komponen presisi, Airlangga memaparkan potensi pasar semikonduktor di Tanah Air yang diproyeksikan melonjak dari USD5,08 miliar pada 2025 menjadi USD7,07 miliar pada 2030. Tren ekspansi ini dinilai menjadi momentum emas untuk memperdalam alih teknologi dan memperkuat kapasitas manufaktur di dalam negeri.

Untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif, Airlangga menekankan komitmen pemerintah dalam menempuh langkah debottlenecking untuk mengurai simpul-simpul hambatan yang dihadapi pelaku usaha di lapangan. Otoritas membuka kanal koordinasi lintas kementerian dan lembaga terkait agar kendala operasional yang dialami investor AS dapat segera dicarikan jalan keluar.

Terkait aspek tata niaga, Airlangga menyoroti pentingnya penyelesaian isu-isu perdagangan bilateral yang masih menjadi ganjalan bersama, termasuk pembahasan menyangkut Section 301 serta persoalan kelebihan kapasitas produksi. Penuntasan isu tersebut diharapkan memberikan kepastian hukum dan menjaga ketahanan rantai pasok antara kedua negara secara berkelanjutan.

“Kesepakatan ini diharapkan dapat menghasilkan nilai sekitar USD33 miliar, yang semoga dapat mendukung berbagai sektor, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat rantai pasok antara Amerika Serikat dan Indonesia. Kami terbuka bagi seluruh industri yang sebagian besar memang sudah berdiri di Indonesia. Jadi, jika Anda memiliki permintaan lain atau menghadapi tantangan tertentu, mari kita coba cari solusinya bersama,” ujar Airlangga.

(NIA DEVIYANA)

SHARE