SKK Migas Percepat Proyek Blok Masela, Bakal Teken Jual-Beli Gas di Mei 2026
SKK Migas melaporkan perkembangan terbaru proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela. Penandatanganan jual-beli gas dari proyek tersebut ditargetkan pada Mei 2026.
IDXChannel – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK MIgas) melaporkan perkembangan terbaru proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela. Penandatanganan jual-beli gas dari proyek tersebut ditargetkan pada Mei 2026 mendatang.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menjelaskan bahwa manajemen PT JGC Jepang sebagai konsultan Front End Engineering Design (FEED) atau desain teknis kontruksi Proyek Abadi Masela telah datang ke SKK Migas untuk melaporkan progress terbaru pada Selasa (7/4/2026).
“SKK menyampaikan instruksi Menteri bahwa FEED harus dapat diselesaikan paling telat akhir tahun ini,” kata Djoko kepada IDX Channel dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Dengan begitu, Djoko menargetkan tender tender Engineering Procurement Construction (EPC) Blok Masela dapat dilaksanakan pada Oktober 2026. Sementara itu, Gas Sales Agreement (GSA) dapat ditandatangani pada Mei 2026.
“GSA dapat diteken Mei, saat pegelaran akbar hulu migas acara IPA Convex, yang direncanakan dihadiri Presiden RI dan Menteri seperti tahun lalu,” tuturnya.
Sejauh ini, Pertamina berpeluang menjadi pembeli utama gas dari Blok Masela. Selain itu, terdapat lima calon pembeli lainnya yang berasal dari perusahaan energi global, yaitu Osaka Gas Jepang, Kyushu Elektrik Jepang, Shell Trading, BP Trading, dan Chevron Trading.
Di sisi lain, SKK Migas juga menerima surat dari CEO Inpex, Takayuki Ueda, yang menyatakan kesediaan perusahaan Jepang itu untuk mengirimkan kargo LPG dari Australia ke Indonesia.
“Surat dari CEO Inpex bahwa Inpex bersedia mengirim cargo cargo LPG dari Produksi Inpex di Australia untuk Indonesia,” ungkap Djoko.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu dengan CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda, Minggu (15/3/2026). Pertemuan tersebut untuk memastikan percepatan proyek Blok Masela yang nilainya mencapai USD20 miliar atau sekitar Rp339 triliun (dengan kurs Rp16.900 per dolar AS).
Bahlil bahkan mengapresiasi kemajuan pembangunan proyek ini, yang telah mencapai sekitar 25 persen. Melihat kemajuan yang signifikan ini, Bahlil menegaskan keinginannya agar Proyek Abadi Masela dapat memajukan FEED pada kuartal kedua 2026 atau selambatnya di kuartal ketiga tahun ini, supaya secara paralel dapat melakukan tender EPC.
"Karena kami berkeinginan ini bisa cepat supaya jangan ulur-ulur lagi. Ini 27 tahun, masa kita mau tunggu sampai usia saya 60 tahun baru jadi kan. Apalagi itu kampung ibu saya. Jadi saya pikir bisa tahun ini kita semua tender EPC," ujar Bahlil dalam pertemuan itu.
Untuk mencapai target FEED tersebut, Bahlil menawarkan kepada INPEX supaya produksi Lapangan Abadi Masela yang mencapai 9 Million Tonnes Per Annum (MTPA), apabila belum ada pembeli serius hingga akhir April 2026, agar dibeli oleh Danantara, termasuk pasokan untuk program hilirisasi.
"Supaya ada kepastian buyer. Saya menghargai buyer luar negeri, tapi pada saatnya sekarang negara Indonesia harus hadir, untuk bersama-sama dengan INPEX dalam rangka memastikan operasi. Jadi kami saja yang membeli," ujar Bahlil.
Menanggapi Menteri ESDM, CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda juga menyampaikan komitmennya untuk segera menyelesaikan Proyek Abadi Masela.
(Febrina Ratna Iskana)