ECONOMICS

SKK Migas Percepat Proyek Blok Masela, Bakal Teken Jual-Beli Gas di Mei 2026

Febrina Ratna Iskana 08/04/2026 07:18 WIB

SKK Migas melaporkan perkembangan terbaru proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela. Penandatanganan jual-beli gas dari proyek tersebut ditargetkan pada Mei 2026.

SKK Migas Percepat Proyek Blok Masela, Bakal Teken Jual-Beli Gas di Mei 2026. (Foto: Dok. SKK Migas)

IDXChannel – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK MIgas) melaporkan perkembangan terbaru proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela. Penandatanganan jual-beli gas dari proyek tersebut ditargetkan pada Mei 2026 mendatang.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menjelaskan bahwa manajemen PT JGC Jepang sebagai konsultan Front End Engineering Design (FEED) atau desain teknis kontruksi Proyek Abadi Masela telah datang ke SKK Migas untuk melaporkan  progress terbaru pada Selasa (7/4/2026).

“SKK menyampaikan instruksi Menteri bahwa FEED harus dapat diselesaikan paling telat akhir tahun ini,” kata Djoko kepada IDX Channel dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).

Dengan begitu, Djoko menargetkan tender tender Engineering Procurement Construction (EPC) Blok Masela dapat dilaksanakan pada Oktober 2026. Sementara itu, Gas Sales Agreement (GSA) dapat ditandatangani pada Mei 2026.

“GSA dapat diteken Mei, saat pegelaran akbar hulu migas acara IPA Convex,  yang direncanakan dihadiri Presiden RI dan Menteri seperti tahun lalu,” tuturnya.

Sejauh ini, Pertamina berpeluang menjadi pembeli utama gas dari Blok Masela. Selain itu, terdapat lima calon pembeli lainnya yang berasal dari perusahaan energi global, yaitu Osaka Gas Jepang, Kyushu Elektrik Jepang, Shell Trading, BP Trading, dan Chevron Trading.

Di sisi lain, SKK Migas juga menerima surat dari CEO Inpex, Takayuki Ueda, yang menyatakan kesediaan perusahaan Jepang itu untuk mengirimkan kargo LPG dari Australia ke Indonesia.

“Surat dari CEO Inpex bahwa Inpex bersedia mengirim cargo cargo LPG dari Produksi Inpex di Australia untuk Indonesia,” ungkap Djoko.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan proyek Blok Masela yang telah lama berada dalam tahap pembahasan kini menunjukkan kemajuan signifikan setelah dilakukan pertemuan intensif sepanjang 2025.

Pemerintah telah menyepakati skema pengembangan proyek dengan nilai awal mencapai USD20,9 miliar, yang berpotensi meningkat seiring dinamika geopolitik dan penambahan teknologi penangkapan karbon (CCS).

Bahlil menambahkan bahwa secara keseluruhan nilai investasi proyek diperkirakan mencapai lebih dari Rp300 triliun, sekaligus menegaskan dominasi sektor ESDM dalam struktur investasi yang masuk. Ia menegaskan bahwa pemerintah menargetkan percepatan implementasi proyek tersebut, termasuk pelaksanaan tender EPC serta penyelesaian FEED 2026.

"Nah, tugas saya sebagai Menteri ESDM, Presiden tadi dalam arahannya, ketika saya pertemukan Presiden Direktur daripada Inpex, dengan Presiden, mengharapkan agar proyek ini bisa cepat diimplementasikan. Dan tahun ini, 2026, tender EPC-nya akan kita lakukan. FEED-nya juga akan selesai. Dan kita minta untuk dipercepat," ujarnya di sela kunjungan kerja di Tokyo, Jepang, Senin (30/3/2026).

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa percepatan proyek ini akan berdampak besar terhadap ketahanan energi nasional, mengingat Blok Masela merupakan salah satu proyek migas berskala besar (giant) yang dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain gas dunia. Pemerintah juga mendorong optimalisasi pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik guna memperkuat hilirisasi energi nasional.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE