ECONOMICS

SMF Soroti Rendahnya Penjualan Rumah, Kelas Menengah Tertekan hingga Tren Sewa Menguat

Rohman Wibowo 23/07/2026 15:04 WIB

Merosotnya penjualan rumah memberikan dampak terhadap industri pembiayaan perumahan, termasuk bisnis SMF.

SMF Soroti Rendahnya Penjualan Rumah, Kelas Menengah Tertekan hingga Tren Sewa Menguat (Foto: dok SMF)

IDXChannel - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF mencatat penurunan signifikan pada penjualan rumah residensial primer nasional pada awal 2026.

Pelemahan tersebut  tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan ekonomi, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat yang semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan membeli hunian.

Chief Economist SMF Martin Daniel Siyaranamual mengatakan, kontraksi penjualan rumah memberikan dampak terhadap industri pembiayaan perumahan, termasuk bisnis SMF sebagai lembaga pembiayaan sekunder perumahan.

"Penjualan rumah memang mengalami pertumbuhan yang negatif dan ini akan berimplikasi dalam banyak hal, termasuk dalam bisnis PT SMF. Keputusan membeli rumah itu sangat fundamental dalam kehidupan seseorang, sehingga tekanan yang terjadi saat ini sifatnya bukan hal yang mudah ditanggung," kata Martin dalam diskusi media di Jakarta, dikutip Kamis (23/7/2026).

Berdasarkan data SMF, penjualan rumah residensial primer pada kuartal I-2026 mengalami kontraksi sebesar 25,67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut berbalik dibandingkan Triwulan IV-2025 yang masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 7,83 persen yoy.

Secara kuartalan, penjualan rumah pada periode yang sama juga turun 7,69 persen (quarter to quarter/qtq), setelah sebelumnya tumbuh tipis sebesar 2,01 persen qtq pada kuartal IV-2025.

Menurut Martin, pelemahan pasar perumahan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam mengambil keputusan finansial jangka panjang. Ketidakpastian ekonomi membuat sebagian masyarakat memilih mempertahankan likuiditas dibandingkan melakukan pembelian aset bernilai besar seperti rumah.

"Rumah itu investasi jangka panjang. Ketika kondisinya tidak pasti, masyarakat memilih tidak dulu beli rumah karena yang penting ada uang di tabungan untuk makan," tutur dia.

Martin mengungkapkan, penurunan penjualan rumah dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, mulai dari penyusutan populasi kelas menengah hingga meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap risiko keuangan di masa depan.

Ketika tekanan ekonomi meningkat, kebutuhan jangka panjang seperti pembelian rumah menjadi salah satu sektor yang pertama kali ditunda oleh masyarakat.

Selain faktor daya beli, SMF juga melihat adanya perubahan pola konsumsi dan gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda. Preferensi terhadap fleksibilitas finansial membuat sebagian masyarakat kini lebih memilih menyewa rumah dibandingkan membeli hunian.

"Perubahan soal perumahan itu selalu mentok di diskusi fisik atau keuangan, padahal ada dimensi sosialnya. Pola konsumsi masyarakat muda saat ini cenderung untuk menyewa rumah ketimbang membeli rumah," ujarnya.

(DESI ANGRIANI)

SHARE