S&P Pertahankan Peringkat Utang Indonesia di BBB, Outlook Tetap Stabil
S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB dan peringkat jangka pendek di A-2, dengan outlook tetap stabil.
IDXChannel - S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB dan peringkat jangka pendek di A-2, dengan outlook tetap stabil.
Lembaga pemeringkat itu menilai pelemahan kondisi fiskal dan eksternal saat ini hanya bersifat sementara dan berpotensi membaik seiring kenaikan harga komoditas serta langkah pemerintah memangkas belanja.
Menurut S&P, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan diperkirakan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Kebijakan hilirisasi dan upaya pemerintah memperketat pengelolaan sektor mineral dan sumber daya alam dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dan ekspor dalam jangka panjang.
Meski demikian, S&P mengingatkan perubahan kebijakan yang berlangsung cepat dan ketidakpastian implementasi dapat menekan kepercayaan investor serta memicu pelemahan nilai tukar dan pasar keuangan.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, didorong peningkatan konsumsi saat libur dan belanja pemerintah.
Namun, pasar keuangan bergejolak dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar pada paruh pertama tahun ini, sementara rupiah melemah sekitar 7 persen terhadap dolar AS.
S&P menilai tekanan tersebut dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz yang mendorong lonjakan harga minyak.
Sebagai importir bersih minyak, Indonesia menghadapi kenaikan biaya impor energi yang mempersempit surplus perdagangan.
Di sisi fiskal, S&P memperkirakan defisit APBN tetap berada di bawah batas 3 persen dari PDB.
Pemerintah diperkirakan menekan belanja, termasuk memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekitar sepertiga, sekaligus memanfaatkan pemulihan penerimaan pajak dan pendapatan sektor komoditas.
S&P juga melihat pendapatan negara mulai membaik setelah penerimaan semester I-2026 meningkat 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan didukung pulihnya penerimaan pajak serta royalti sektor sumber daya alam (SDA) seiring membaiknya harga komoditas.
Meski demikian, beban pembayaran bunga utang masih relatif tinggi akibat peningkatan utang selama pandemi, kenaikan imbal hasil obligasi, dan pelemahan rupiah.
Rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan diperkirakan tetap di atas 15 persen hingga 2027 sebelum kembali menurun.
Dari sisi eksternal, S&P memperkirakan defisit transaksi berjalan melebar menjadi 2,1 persen dari PDB pada 2026 akibat lonjakan biaya impor energi.
Namun, kebijakan hilirisasi dan peningkatan penerimaan ekspor diyakini dapat memperbaiki posisi eksternal secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Secara keseluruhan, S&P menilai fundamental ekonomi Indonesia masih didukung disiplin fiskal, prospek pertumbuhan yang solid, serta beban utang pemerintah yang relatif moderat dibandingkan negara dengan peringkat serupa.
Outlook stabil mencerminkan keyakinan bahwa tekanan fiskal dan eksternal saat ini bersifat sementara dan akan mereda seiring stabilisasi harga komoditas serta implementasi kebijakan yang lebih konsisten. (Aldo Fernando)