ECONOMICS

Tekan Defisit Dagang Sektor Migas, Penggunaan B50 Bakal Dioptimalkan

Rohman Wibowo 05/08/2026 23:35 WIB

Pemerintah bakal mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati, seperti program mandatori Biodiesel B50 untuk menekan ketergantungan impor energi nasional.

Tekan Defisit Dagang Sektor Migas, Penggunaan B50 Bakal Dioptimalkan. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons tekanan defisit neraca perdagangan yang dibebani tingginya impor di sektor minyak dan gas (migas). 

Pemerintah bakal mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati, seperti program mandatori Biodiesel B50 untuk menekan ketergantungan impor energi nasional.

Airlangga mengakui sektor migas memang terus mengalami defisit. Namun, akumulasi kinerja perdagangan nasional secara umum dinilai masih berada dalam tren positif antara sektor migas dan non-migas.

"Ya, kita akan terus tekan, tetapi per semester neraca perdagangan kan masih positif (surplus)," kata Airlangga saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Adapun neraca dagang RI kembali defisit pada Juni 2026 menyusul masih besarnya tekanan dari impor minyak dan hasil olahan migas sebesar USD0,45 miliar. Defisit neraca dagang ini berlanjut untuk kedua kalinya seiring defisit pada Mei 2026 sebesar USD1,61 miliar. 

Adapun defisit bersumber dari perdagangan migas yang tercatat minus USD3,49 miliar, dan penyumbang terbesarnya berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah.

Sebelumnya, neraca perdagangan barang selalu mencatat tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Untuk menambal celah defisit impor energi yang membengkak, pemerintah mengandalkan akselerasi program penyerapan bahan bakar nabati di dalam negeri.

Optimalisasi mandatori biodiesel seperti B50 diproyeksikan mampu memangkas ketergantungan impor minyak mentah sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

"Energi kan sudah bertahun-tahun neracanya negatif. Nah ini kita akan dorong dengan adanya misalnya biodiesel seperti B50, itu akan kita turunkan defisitnya," ujar Airlangga.

Seturut itu, langkah akselerasi pemanfaatan campuran minyak sawit dalam bahan bakar solar tersebut dinilai mampu menghemat devisa negara secara signifikan. Airlangga sempat menekankan, penerapan program biodiesel B50 secara masif bisa menghemat devisa hingga Rp177 triliun, dan kemungkinan Indonesia tidak lagi bergantung pada impor.

(NIA DEVIYANA)

SHARE