ECONOMICS

Tekanan Global Meningkat, Rupiah Berpotensi Sentuh Rp17.075 per Dolar AS

Anggie Ariesta 23/03/2026 18:43 WIB

Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan saat perdagangan kembali dibuka setelah libur panjang Idulfitri.

Tekanan Global Meningkat, Rupiah Berpotensi Sentuh Rp17.075 per Dolar AS. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – Nilai tukar rupiah diperkirakan menghadapi tekanan saat perdagangan kembali dibuka setelah libur panjang Idulfitri. Pelemahan mata uang domestik dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan indeks dolar AS akan bergerak di kisaran 98,73 hingga 101,20 dengan kecenderungan menguat dalam waktu dekat.

“Dalam perdagangan minggu depan kemungkinan indeks dolar ini akan kembali menguat menuju 101,20, bukan melemah ke 98,73 yang merupakan area support,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (23/3/2026).

Menurutnya, penguatan dolar AS didorong oleh sikap bank sentral global yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi (hawkish) untuk menekan inflasi. Di sisi lain, tekanan inflasi global juga dipicu oleh kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah jenis Brent yang diperkirakan dapat menembus kisaran USD110 hingga USD116 per barel.

Lonjakan harga energi tersebut berkaitan dengan meningkatnya tensi geopolitik, termasuk potensi konflik yang melibatkan Iran sebagai salah satu produsen minyak utama dunia.

“Iran merupakan salah satu negara penghasil brent crude oil untuk bahan bakar avtur. Kondisi ini membuat harga emas tergelincir dan investor beralih ke safe haven dolar AS karena prospek penguatannya cukup tajam,” jelasnya.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan 20 Maret 2026, rupiah sempat menguat 0,37 persen ke level Rp16.928 per dolar AS. Namun, meningkatnya risiko geopolitik, termasuk potensi konflik darat antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang.

Ibrahim memperkirakan pada pembukaan perdagangan 24 Maret 2026, rupiah berpotensi kembali terdepresiasi dan mendekati level psikologis baru.

“Dalam perdagangan minggu depan, kemungkinan mata uang rupiah masih akan terus mengalami pelemahan,” ujarnya.

Adapun estimasi pergerakan rupiah pada perdagangan 24 Maret 2026 berada di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS sebelumnya tercatat menguat 0,42 persen ke level 99,64 pada penutupan perdagangan 20 Maret 2026.

(Shifa Nurhaliza Putri)

SHARE