ECONOMICS

Tumbuh Melambat, Utang Luar Negeri Indonesia USD433,4 Miliar di Kuartal I-2026

Desi Angriani 18/05/2026 11:51 WIB

BI mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada kuartal I-2026.

Tumbuh Melambat, Utang Luar Negeri Indonesia USD433,4 Miliar di Kuartal I-2026 (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada kuartal I-2026.

Posisi ULN hingga Maret 2026 tercatat sebesar USD433,4 miliar, atau tumbuh sebesar 0,8 persen (yoy) melambat dibandingkan dengan kuartal IV-2025 sebesar 1,9 persen. 

"Perkembangan posisi ULN tersebut dipengaruhi oleh ULN sektor publik dan ULN sektor swasta," tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam laman resmi BI, Senin (18/5/2026).

Adapun utang luar negeri pemerintah tumbuh lebih rendah 3,8 persen (yoy) atau sebesar USD214,7 miliar, dibandingkan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 sebesar 5,5 persen (yoy). 

Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional seiring dengan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

"Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah dan memanfaatkan momentum pertumbuhan perekonomian," tutur Denny.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,1 persen), Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,2 persen), Jasa Pendidikan (16,2 persen), Konstruksi (11,5 persen), serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen). 

Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah.

Sementara itu, posisi utang luar negeri swasta turun menjadi USD191,4 miliar dibandingkan dengan posisi pada kuartal IV-2025 sebesar USD194,2 miliar atau secara tahunan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8 persen (yoy). 

Penurunan posisi ULN terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (non financial corporations), yang secara tahunan masing-masing tercatat kontraksi sebesar 3,6 persen (yoy) dan 1,3 persen (yoy). 

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,4 persen dari total ULN swasta. 

ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6 persen terhadap total ULN swasta.

Denny menyebut, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. 

Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,5 persen pada kuartal I-2026 dari 30 persen pada kuartal IV-2025, serta didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,4 persen dari total ULN. 

(DESI ANGRIANI)

SHARE