ECONOMICS

Wamen Investasi Ingatkan Risiko Kenaikan Harga Pangan Saat Kembangkan Industri Bioetanol

Rohman Wibowo 20/04/2026 17:05 WIB

Wamen Investasi mengatakan ada risiko inflasi harga pangan ketika sebagian besar komoditas dialihkan untuk memproduksi bioetanol sebagai alternatif BBM.

Wamen Investasi Ingatkan Risiko Kenaikan Harga Pangan Saat Kembangkan Industri Bioetanol. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengatakan ada risiko inflasi harga pangan ketika sebagian besar komoditas dialihkan untuk memproduksi bioetanol sebagai alternatif BBM. Kekhawatiran ini seiring adanya mandatori pemerintah soal penerapan bauran energi bioetanol sebanyak 10 persen (E10) pada 2028 mendatang. 

Dia menekankan konsumsi besar akan komoditas pangan mulai dari jagung, gula, hingga singkong sebagai bahan baku bioetanol bakal tersedot masif menyusul adanya industrialisasi sektor bioetanol.

"Jadi for future akan meningkatkan harga pangan kita, tetapi pun sebagai penyimpangannya juga ada," kata Todotua dalam jumpa pers di kantor BKPM, Senin (20/4/2026).

Namun, Todotua mengatakan sudah ada korporasi yang berkembang dalam proses produksi bioetanol secara mutakhir atau sudah masuk generasi kedua. Sebelumnya, bioetanol generasi pertama merujuk pada bahan bakar hayati cair yang diproduksi dari tanaman pangan yang mengandung gula (tebu, bit gula) atau pati (jagung, singkong, gandum) melalui fermentasi.

Tetapi di perkembangan teranyar atau generasi kedua menunjukkan bahwa bahan bakar nabati yang diproduksi dari biomassa seperti limbah pertanian, residu tanaman, hingga sampah organik. Sehingga tidak beririsan langsung dengan kebutuhan pangan.

"Kalau second generation artinya tidak mengganggu ekosistem yang ada untuk ketahanan pangan kita. Nah recent development yang ada di Jepang, mereka sudah bisa masuk ke second generation," kata dia. 

Teranyar, pemerintah melalui Pertamina NRE menggarap kerja sama dengan Toyota Motor Asia memproduksi bioetanol. Pada akhir 2026, direncanakan pembangunan pabrik di Provinsi Lampung, dengan target puluhan sampai ratusan ribu kiloliter setiap tahunnya. 

Todotua meyakini Toyota cukup mampu memproduksi bioetanol untuk kepentingan industri otomotif dan kebutuhan domestik karena memiliki inovasi teknologi melalui Research Development for Bioethanol (RABID).

"Planningnya sekitar Q3-Q4 tahun ini, kami akan mulai construction untuk pembangunan plan etanolnya dan sambil berjalan juga ada plantation untuk sorgumnya. Untuk awal, kapasitas produksinya 60 ribu kiloliter setahun. Rencana untuk start penanaman itu 6.000 hektare untuk sorgum dulu," kata Todotua.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE