ECONOMICS

Wamenkeu Klaim Fiskal RI Siap Hadapi Gejolak Perang Israel-AS vs Iran

Rohman Wibowo 02/03/2026 21:15 WIB

Wamenkeu Juda Agung menyatakan kondisi fiskal Indonesia siap merespons gejolak global, termasuk konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran.

Wamenkeu Klaim Fiskal RI Siap Hadapi Gejolak Perang Israel-AS vs Iran. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan kondisi fiskal Indonesia siap merespons gejolak global, termasuk konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran.

Juda merujuk pada postur APBN dan sejumlah indikator makro perekonomian nasional yang dianggap masih mampu resiliensi.

"APBN kita itu memang didesain dengan prinsip prudent, fleksibel. Kami memastikan bahwa defisit di bawah 3 persen. Debt to GDP ratio sekitar 40 persen. Fleksibel, artinya termasuk kalau terjadi shock-shock yang bersumber dari global," ujar Juda dalam forum diskusi ekonomi di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).

Meski demikian, Juda menitikberatkan inflasi akibat harga minyak yang berpotensi naik karena Iran memblokade Selat Hormuz. Selain itu, dampak terhadap nilai tukar rupiah, terutama terhadap dolar AS, juga tak akan terelakkan.

Dengan begitu, dia memproyeksi ada tekanan pada ruang fiskal nasional.

"Satu dolar kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) itu menyebabkan kenaikan defisit Rp6,8 triliun. Kemudian kenaikan Rp100 rupiah per USD, pelemahan nilai tukar, itu dampaknya sekitar Rp0,8 triliun, dan kepada yield juga akan menambah sekitar Rp1,9 triliun (ketika naik 0,1 persen), budget defisit," urai Juda.

Juda menekankan prediksi konflik yang terjadi semestinya digambarkan sampai skenario terburuk. Tapi, pemerintah telah memetakan risiko-risiko secara fiskal maupun moneter dalam tataran di permukaan atau masuk akal untuk dipertimbangkan sebagai landasan mengambil kebijakan ekonomi.

"Katakanlah misalnya harga minyak di atas USD100, USD150 dan sebagainya, tentu saja ini fiskalnya tentu akan berdampak. Tapi, kami melihat foreseeable future. Dalam horizon misalnya katakanlah naik sampai USD75 per barel pun, itu di dalam skenario kami masih di dalam range APBN," kata Huda.

Menyiasati kondisi fiskal, Juda mengatakan kini sumber pembiayaan yang dipakai juga menambal defisit APBN tidak terlampau bergantung pada AS. Obligasi global terkini diterbitkan dalam mata uang Euro dan Renminbi. 

"Kami lakukan berbagai upaya agar daya tahan fiskal terhadap gejolak-gejolak itu juga dapat terjaga dengan baik. Termasuk diversifikasi dari pembiayaannya. Kemenkeu baru saja menerbitkan Global Bonds sejumlah 4,5 miliar ekuivalen dolar AS tapi dalam mata uang Euro dan Renminbi," kata Huda.

(Febrina Ratna Iskana)

SHARE