3 Tren Terkini pada Penyakit Kanker, Tak Lagi Mendominasi Usia Lanjut
Pendiri Parkway Cancer Center (PCC), Dr. Khoo Kei Siong, membeberkan tiga tren utama terkait perkembangan kanker global saat ini.
IDXChannel—Perkembangan kesehatan global masa kini menunjukkan pergeseran signifikan terkait penyakit kanker. Kanker tidak lagi hanya diidentikkan dengan usia lanjut, tetapi juga mulai mengintai kelompok usia produktif.
Di sisi lain, kemajuan teknologi medis dan kesadaran gaya hidup sehat memberikan angin segar dengan penurunan angka kematian secara bertahap.
Pendiri Parkway Cancer Center (PCC), Dr. Khoo Kei Siong, melalui penerjemahnya, membeberkan tiga tren utama terkait perkembangan kanker global saat ini. Hal tersebut disampaikannya dalam agenda Media Gathering 20 Tahun PCC di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Tren pertama yang menjadi sorotan adalah penuaan populasi secara global. Meningkatnya jumlah masyarakat berusia lanjut berbanding lurus dengan peningkatan risiko penyakit degeneratif dan kronis, termasuk kanker.
"Berikut adalah tren-tren penting yang terjadi di dunia saat ini: yang pertama, aging population. Jadi, masyarakat kita itu menua dan semakin banyaknya populasi yang menua, berarti makin tinggi juga angka kejadian kanker," kata Dr. Khoo Kei Siong.
Hal yang cukup mengejutkan adalah tren kedua, yaitu meningkatnya kasus early-onset cancer atau keganasan awitan dini. Kanker kini tak lagi mendominasi pada lansia, melainkan semakin sering ditemukan pada kelompok usia produktif di bawah 50 tahun.
"Kedua, saat ini kita melihat terjadi peningkatan angka kejadian early-onset cancer, atau keganasan awitan (gejala) dini. Keganasan awitan dini yang dimaksud dengan early-onset cancer adalah kanker yang terjadi sebelum pasien dewasa berusia 50 tahun. Terutama pada pasien-pasien yang berusia masih 30–40 tahun. Jadi makin banyak orang dewasa muda yang terdiagnosis kanker," papar dia.
Meskipun kasus baru terus merangkak naik, tren ketiga membawa kabar baik. Angka kematian (mortalitas) akibat kanker justru menunjukkan penurunan drastis berkat kombinasi kemajuan terapi medis, kesadaran skrining dini, dan perubahan gaya hidup.
"Ketiga, trennya terjadi perubahan kesintasan atau survival atau mortalitas atau kematian pasien-pasien kanker. Dari satu statistik dari 1991–2023, itu menggunakan data di USA, untuk kematian akibat kanker sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir sebanyak 34 persen dan berarti kurang lebih 4,8 juta kematian sudah berhasil dicegah dengan kemajuan pengobatan kanker," jelas Dr. Khoo
Menurunkan Risiko Kanker Dimulai dari Sehari-hari
Dr. Khoo menegaskan bahwa penurunan risiko kanker sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Langkah pencegahan primer berbasis gaya hidup memegang peranan krusial dalam menekan angka kejadian kanker secara kolektif.
"Mari kita lihat apa sebetulnya yang mengakibatkan penurunan angka kematian kanker tersebut. Kita dapat ketahui dengan perubahan gaya hidup saja, perubahan lingkungan, perubahan behavior, itu dapat menurunkan risiko kanker," ungkap dia.
Ia menguraikan beberapa pola hidup sehat yang bisa diterapkan, seperti hindari kebiasaan merokok dan paparan asapnya, pola makan seimbang, memperbanyak asupan sayur, buah, serta bahan-bahan alami organik, membatasi konsumsi alkohol.
Selain itu menjaga fisik juga penting seperti diantaranya rutin berolahraga guna menjaga Indeks Massa Tubuh (IMT/BMI) ideal serta mencegah obesitas, menjaga kebersihan diri (personal hygiene), melakukan vaksinasi pencegah kanker, seperti vaksin Hepatitis B dan vaksin HPV (Human Papillomavirus) yang efektif menekan risiko kanker serviks.
"Jika secara kolektif kita melakukan ini semua pada populasi besar, maka kita dapat menurunkan angka kejadian kanker dan angka kematian akibat kanker tersebut," tambah Dr. Khoo.
Selain gaya hidup, faktor kunci lain yang berhasil menekan angka kematian adalah efektivitas penapisan (skrining) dini. Namun, tantangan besar masih dihadapi Indonesia, di mana tingkat kesadaran akan skrining rutin dinilai perlu ditingkatkan.
Menurut data yang dipaparkan dirinya, menunjukan bahwa risiko seseorang terdiagnosis kanker di Indonesia cukup nyata. Diprediksi sekitar 1 dari 7 warga Indonesia terdiagnosis kanker saat mencapai usia 75 tahun. Angka ini menghasilkan sekitar 480.000 kasus baru setiap tahun dengan angka kematian mencapai 283.000 jiwa per tahun.
Sebagai perbandingan, di Singapura parameternya mencapai 1 dari 4 orang, yang terbesar dari angka kejadian ini dialami oleh kaum wanita, terutama akibat kanker payudara dan kanker serviks. Sayangnya, mayoritas pasien baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah memasuki tahap lanjut.
"Dari semua yang didiagnosis kanker, wanita merupakan yang paling besar, dan itu terutama akibat kanker payudara dan juga kanker serviks. Dan masalah lainnya adalah kanker-kanker tersebut banyak sekali yang didiagnosis pada stadium akhir, stadium 3 dan stadium 4, di mana kemungkinan untuk disembuhkannya itu jauh lebih rendah," pungkas dia.
(Nadya Kurnia)