Gaya Hidup di Iklim Tropis Tingkatkan Risiko Batu Ginjal, Dokter Ungkap Penyebabnya
Gaya hidup masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah beriklim tropis menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal.
IDXChannel—Penyakit batu ginjal tak lagi identik dengan usia lanjut. Orang dewasa berusia 25-35 tahun justru menjadi kelompok yang perlu mulai rutin melakukan skrining kesehatan ginjal untuk mendeteksi gangguan sejak dini.
Dokter Konsultan Urologi Subspesialis Trauma & Rekonstruksi Saluran Kemih Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Donny Eka Putra, Sp.U., Subsp.TRK(K) menjelaskan bahwa gaya hidup masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah beriklim tropis menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal.
“Negara kita tropis, badan cenderung dehidrasi kalau kurang minum. Apalagi yang bekerja di meja atau di lapangan dan lupa minum. Kristal-kristal hasil olahan makanan menumpuk di ginjal dan jadi batu,” ujarnya saat Peluncuran Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong, Rabu (29/7/2026).
Menurut dr. Donny, terdapat tiga jenis kristal yang paling sering menjadi penyebab batu ginjal di Indonesia. Di antaranya asam urat, oksalat, dan kalsium.
Karena itu, menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi langkah sederhana tetapi penting untuk mencegah pembentukan batu. Ia menyarankan orang dengan aktivitas normal mengonsumsi air putih sekitar 1,5 hingga 2 liter per hari.
Namun, kebutuhan cairan bisa meningkat apabila seseorang rutin berolahraga atau bekerja dengan aktivitas fisik yang tinggi.
“Idealnya 1,5 sampai 2 liter per 24 jam untuk aktivitas biasa. Jika olahraga atau stresor tinggi, harus ditambahkan. Ukuran minum juga berdasarkan berat badan,” jelasnya.
Selain cukup minum, masyarakat juga diimbau mengatur pola makan. Beberapa makanan seperti kacang-kacangan, emping, seafood, hingga teh diketahui mengandung zat yang dapat memicu pembentukan kristal apabila dikonsumsi berlebihan.
“Bukan tidak boleh, tapi harus diatur. Juga hindari vitamin C dosis tinggi secara berlebihan. Obesitas atau berat badan tidak ideal juga berpengaruh pada gangguan saluran kemih,” katanya.
Sementara itu Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD.KGH, FINASIM, mengungkapkan jumlah pasien gagal ginjal terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, banyak kasus sebenarnya dapat dicegah apabila gangguan ginjal terdeteksi lebih awal.
Ia juga mengingatkan pasien yang pernah mengalami batu ginjal agar tetap rutin melakukan kontrol karena batu dapat terbentuk kembali meski sudah diobati. Pasalnya, batu ginjal bisa kembali terbentuk.
“Pasien harus tetap kontrol meski batu sudah ditangani, karena batu bisa terbentuk lagi. Masalah makanan juga penting, banyak makanan dan obat-obatan atau jamu yang bersifat nefrotoksik,” ujarnya.
(Nadya Kurnia)