ECOTAINMENT

Kunjungan Wisman Timur Tengah Susut, Kemenpar Ingin Buka Pasar Asia Timur hingga Oseania

Niko Prayoga 21/05/2026 11:10 WIB

Konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat juga berdampak pada kunjungan wisatawan asal wilayah Timur Tengah.

Kunjungan Wisman Timur Tengah Susut, Kemenpar Ingin Buka Pasar Asia Timur hingga Oseania. (Foto: Kemenpar)

IDXChannelKementerian Pariwisata berencana membuka pasar di wilayah Asia Tenggara, Asia Timur, dan Oseania untuk mengisi kekosongan kunjungan wisatawan mancanegara dari Timur Tengah

Konflik geopolitik di Timur Tengah tak hanya berdampak pada kenaikan harga energi dan bahan baku strategis, tetapi juga menurunkan potensi kunjungan wisata dari wilayah Timur Tengah.

Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat tak dapat dipungkiri memang memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan perolehan devisa.

“Kementerian Pariwisata harus melakukan prepositioning dan juga melakukan strategi-strategi yang jitu untuk membuka pasar di Asia Tenggara, Timur, dan Oseania, meningkatkan jumlah wisatawan untuk mengisi kekosongan dari Timur Tengah,” kata Widiyanti dalam konferensi pers Rakornas Pariwisata 2026, Rabu (20/5/2026).

Lebih lanjut Widiyanti menjelaskan, Indonesia harus menjaga capaian devisa pariwisata tertinggi dalam sejarah yang terjadi pada 2025. Pada periode tersebut, devisa dari pariwisata mencapai USD18,27 miliar, setara dengan Rp305,46 triliun. 

Pencapaian itu dibarengi dengan peningkatan perjalanan wisata sebanyak 17,6 persen dibandingkan dengan 2024 atau sebanyak 1,2 miliar perjalanan.

“Pencapaian ini terus kami jaga momentumnya di tengah situasi sektor pariwisata yang masih dinamis dan penuh tantangan. Mulai dari dinamika geopolitik di Timur Tengah dan juga tekanan ekonomi global hingga perubahan perilaku wisatawan,” ucap dia.

Selain itu, tren pariwisata global saat ini terus menuntut digitalisasi pengalaman wisata yang unik, personal dan berkualitas tinggi dan berkelanjutan.

“Praktik pariwisata yang berkelanjutan ini juga kita perlu siasati bersama, bukan hanya dari pusat, tetapi di daerah juga dengan asosiasi dan pelaku industri pariwisata. Situasi ini juga membuat kita harus bekerja keras,” pungkas dia.


(Nadya Kurnia)

SHARE