Maskapai Penerbangan Hadapi Dilema Tarif di Tengah Lonjakan Harga Bahan Bakar
Maskapai penerbangan di berbagai negara mulai menaikkan tarif untuk mengatasi lonjakan harga minyak yang tiba-tiba.
IDXChannel - Maskapai penerbangan di berbagai negara mulai menaikkan tarif untuk mengatasi lonjakan harga minyak yang tiba-tiba.
Di sisi lain, kenaikan tarif berpotensi memicu penurunan permintaan di tengah daya beli konsumen yang lebih lemah
Sebelum konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran dimulai bulan lalu, industri penerbangan memperkirakan meraup keuntungan sebesar USD41 miliar (sekitar Rp696,6 Triliun) secara keseluruhan pada 2026.
Namun, kenaikan harga bahan bakar pesawat jet dua kali lipat mengancam target tersebut, serta memaksa maskapai penerbangan untuk memikirkan kembali strategi mereka.
Dilansir dari CNA (5/4/2026), sejumlah maskapai penerbangan, mulai dari United Airlines hingga Air New Zealand, telah mengumumkan pengurangan kapasitas dan kenaikan tarif, sementara maskapai lain memberlakukan biaya tambahan bahan bakar.
Tahun lalu, industri penerbangan melaporkan rekor lalu lintas penumpang global yang mencapai sekitar 9 persen di atas level pra-pandemi, bahkan di tengah tantangan rantai pasokan yang terus berlanjut yang memengaruhi pengiriman pesawat baru.
Namun, besarnya kenaikan yang dibutuhkan untuk menutupi lonjakan harga bahan bakar jet sangat besar pada saat konsumen berada di bawah tekanan dari biaya hidup yang lebih tinggi yang dapat membatasi pengeluaran diskresioner.
CEO United Airlines, Scott Kirby, mengatakan kepada ABC News baru-baru ini bahwa tarif perlu dinaikkan 20 persen agar maskapai dapat menutupi biaya bahan bakar yang lebih tinggi.
Cathay Pacific Airways Hong Kong telah menaikkan biaya tambahan bahan bakar dua kali dalam sebulan terakhir. Selain itu, perjalanan pulang pergi dari Sydney ke London akan dikenakan biaya tambahan bahan bakar sebesar USD800 (sekitar Rp13 juta).
Maskapai penerbangan berbiaya rendah mungkin akan paling kesulitan, mengingat penumpang mereka lebih sensitif terhadap harga daripada pelanggan korporat dan konsumen kaya.
Mengganti pesawat tua yang lebih boros bahan bakar dengan model yang lebih hemat bahan bakar adalah salah satu cara bagi maskapai penerbangan untuk mengurangi biaya, tetapi kekurangan rantai pasokan yang parah setelah pandemi dan masalah dengan mesin generasi baru telah menunda pengiriman.
(Reporter: Eugenia Siregar) (Wahyu Dwi Anggoro)