Umbi Kimpul Viral, Pelaku Gastronomi Anggap Kesadaran tentang Pangan Lokal Meningkat
Kemunculan konten tentang kimpul bisa menjadi salah satu indikator meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan sehat lokal.
IDXChannel—Kimpul mungkin bukan makanan baru bagi masyarakat Indonesia. Namun, belakangan pangan lokal ini justru kembali mencuri perhatian setelah ramai dibagikan di media sosial.
Seorang kreator konten di TikTok mengolah umbi kimpul menjadi berbagai menu makanan yang jarang terpikirkan oleh masyarakat. Fenomena ini ternyata dilihat sebagai sinyal menarik oleh pelaku gastronomi dan pemerintah.
Yakni, generasi muda mulai punya ketertarikan lebih besar terhadap makanan lokal yang sebelumnya dianggap biasa. Founder Indonesia Gastronomy Network, Vita Datau, menyebut fenomena kimpul yang ramai di media sosial bukan sekadar tren kuliner sesaat.
Menurutnya, kemunculan konten tentang kimpul bisa menjadi salah satu indikator meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan sehat berbasis bahan pangan lokal.
“Saya akan jawab tentang kimpul tadi ya, karena ini menarik buat saya. Jadi begini lho, harusnya adanya fenomena ibu-ibu dan kimpul yang nge-post di sosial media itu menjadi parameter atau barometer meningkatnya kesadaran akan makan sehat berbasis lokal,” kata Vita dalam konferensi pers Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Selasa (15/9/2026).
Menurut Vita, perkembangan teknologi dan media sosial juga membuat masyarakat semakin mudah menemukan kekayaan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia memiliki keragaman budaya dan pangan yang sangat besar. Hal yang selama ini bisa dianggap sebagai tantangan karena terlalu banyak pilihan justru seharusnya dilihat sebagai aset gastronomi.
Ia bahkan menyebut kimpul hanyalah salah satu contoh dari kekayaan pangan lokal yang dimiliki Indonesia. Selain itu, ada juga sagu yang tersebar di Nusantara.
Namun, tantangannya adalah bagaimana tren yang muncul di media sosial tidak berhenti sebagai konten viral. Vita menilai pemerintah daerah memiliki peran penting karena setiap bahan pangan lokal merupakan bagian dari aset daerah.
Pengembangan gastronomi juga harus mampu menggerakkan rantai ekonomi dari hulu hingga hilir.
“Karena apa pun yang dilakukan tanpa ekonomi, maka itu tidak akan bisa sustain,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, juga melihat fenomena kimpul sebagai contoh bagaimana makanan lokal yang sudah lama dikenal sebagian masyarakat kini bisa ditemukan kembali oleh generasi muda melalui teknologi.
“Local wisdom, lokalitas yang saat ini, kalau rekan-rekan media pasti sudah tahu, trennya mengarah ke sana: semakin lokal, semakin istimewa, semakin ada di sekitar kita, semakin dicari,” kata Made.
Menariknya, menurut Made, generasi Z justru memiliki kecenderungan untuk mencari sesuatu yang tidak terlalu mainstream. Ia menyebut fenomena ini sebagai pergeseran dari FOMO (fear of missing out) menuju JOMO (joy of missing out).
Kimpul pun menjadi contoh bagaimana makanan yang mungkin sudah akrab bagi generasi sebelumnya bisa memiliki daya tarik baru ketika ditemukan kembali oleh Gen Z.
“Nah, kimpul ini yang sebetulnya kalau kami udah biasa makan kimpul itu. Tapi sekarang buat Gen Z menemukan kimpul ini dan menjadikan sebuah tren yang sangat menarik,” tuturnya.
Fenomena seperti ini dinilai relevan dengan upaya memperkuat gastronomi Indonesia. Tak hanya mengandalkan kuliner yang sudah populer, kekayaan makanan lokal yang selama ini kurang terekspos bisa kembali diangkat melalui media sosial dan pengalaman wisata.
(Nadya Kurnia)