FOTO

Melihat PGE Kamojang, Lapangan Panas Bumi Tertua yang Masih Produktif

Yudistiro Pranoto 27/06/2026 10:32 WIB

Lapangan panas bumi berkapasitas terpasang 235 megawatt (MW) berperan memasok listrik ke sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali)

IDXChannel – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE memiliki operasional Area Kamojang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lapangan panas bumi berkapasitas terpasang 235 megawatt (MW) berperan memasok listrik ke sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali) sekaligus mendukung target transisi energi nasional. 

Kamojang merupakan salah satu wilayah kerja panas bumi paling bersejarah di Indonesia. Berlokasi di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, kawasan ini berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah kerja mencapai sekitar 45.380 hektare. 

Dari total area tersebut, lahan yang digunakan untuk fasilitas operasional hanya sekitar 110 hektare atau sekitar 0,2% dari keseluruhan wilayah kerja. 

PGE menjelaskan bahwa listrik yang dihasilkan dari Kamojang menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan energi di jaringan Jamali yang merupakan sistem kelistrikan terbesar di Indonesia. 

Selain menghasilkan energi bersih, operasional lapangan ini juga memiliki potensi pengurangan emisi hingga 1,22 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per tahun. Energi yang dihasilkan bahkan disebut mampu memenuhi kebutuhan sekitar 260 ribu rumah tangga. 

Peran Kamojang juga tidak dapat dilepaskan dari posisi strategis PGE dalam industri panas bumi nasional. Secara keseluruhan, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 1.932 MW, terdiri atas operasi sendiri sebesar 727 MW dan kerja sama operasi sebesar 1.205 MW. 

Jejak Seabad Panas Bumi Indonesia

Dalam kunjungan media terungkap panjangnya sejarah pengembangan panas bumi di Kamojang. Aktivitas pengeboran pertama dilakukan pada periode 1926–1928 oleh tim peneliti asal Belanda yang mengebor lima sumur eksplorasi. 

Salah satu sumur bersejarah tersebut, KMJ-3, masih menjadi simbol perjalanan panjang industri panas bumi nasional hingga saat ini. 

Pengembangan lapangan kemudian berlanjut melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan Selandia Baru pada dekade 1970-an. Setelah melalui tahap eksplorasi dan pengembangan, pembangkit Unit 1 mulai beroperasi secara komersial pada 1983 dengan kapasitas 30 MW. Unit 2 dan Unit 3 menyusul pada 1987 dengan kapasitas masing-masing 55 MW. 

Ekspansi berlanjut dengan beroperasinya Unit 4 berkapasitas 60 MW pada 2008 dan Unit 5 berkapasitas 35 MW pada 2015. Dengan tambahan tersebut, kapasitas terpasang Kamojang kini mencapai 235 MW. 

Menurut perusahaan, keberadaan sumur KMJ-3 yang telah berusia hampir satu abad menjadi bukti bahwa energi panas bumi merupakan sumber energi yang berkelanjutan dan mampu dimanfaatkan dalam jangka panjang apabila dikelola secara tepat. 

Didukung Infrastruktur dan Kinerja Keselamatan

PGE Kamojang saat ini memiliki 98 sumur yang tersebar dalam 38 klaster. Dari jumlah tersebut, 64 sumur berfungsi sebagai sumur produksi, sembilan sumur injeksi, 16 sumur monitoring, dan sembilan sumur yang sudah tidak digunakan. 

Operasional lapangan juga ditopang enam jalur pipa dengan total panjang sekitar 27 kilometer yang menghubungkan sumber panas bumi dengan unit pembangkit. Infrastruktur tersebut menjadi tulang punggung dalam menjaga keandalan pasokan energi dari lapangan Kamojang. 

Selain fokus pada produksi energi, perusahaan menyoroti aspek keselamatan kerja dan lingkungan. Hingga 31 Mei 2026, Area Kamojang mencatat nol fatalitas dan nol kehilangan waktu kerja akibat kecelakaan atau lost time injury. PGE juga melaporkan capaian penghindaran emisi sebesar 534.608 ton CO2e sepanjang tahun berjalan. 

Kinerja tersebut turut mendapat pengakuan melalui berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Salah satu pencapaian yang menjadi sorotan adalah keberhasilan Area Kamojang meraih PROPER Emas selama 14 kali berturut-turut, menjadikannya satu-satunya entitas panas bumi di Indonesia yang mencapai catatan tersebut. 

Melalui kunjungan media ini, PGE ingin menunjukkan bahwa panas bumi tidak hanya berperan sebagai sumber listrik rendah emisi, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi ketahanan energi dan agenda dekarbonisasi Indonesia. 

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tuntutan pengurangan emisi, Kamojang menjadi salah satu contoh nyata bagaimana sumber daya panas bumi domestik dapat dioptimalkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

SHARE