INSPIRATOR

Batik Tembayat: Keindahan di Balik Tangan Para Sepuh, Anak Muda hingga Kawan Disabilitas

Niko Prayoga 12/08/2026 13:15 WIB

Batik ini mengunggulkan pewarnaan alami sebagai ciri khas dan daya tarik utamanya, sehingga motif yang dihasilkan tampil lebih elegan.

Batik Tembayat: Keindahan di Balik Tangan Para Sepuh, Anak Muda hingga Kawan Disabilitas. (Foto: MNC Media)

IDXChannelBatik kerap kali diidentikkan dengan keindahan motif serta unsur esensial yang ada di dalamnya. Namun, cerita di balik tangan-tangan yang menghasilkan karya indah tersebut kadang dilupakan atau bahkan tak dilirik sama sekali. 

Padahal, batik bukan melulu soal motif, melainkan tentang perjuangan dan batin para pembuatnya.

​Salah satunya adalah Batik Tembayat, batik yang lahir dari sudut desa kecil di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Batik ini mengunggulkan pewarnaan alami sebagai ciri khas dan daya tarik utamanya, sehingga motif yang dihasilkan tampil lebih elegan dan halus.

​Di balik keindahan Batik Tembayat, tersimpan kisah yang menyentuh. Ketenarannya hari ini tidak lepas dari semangat para pembatik sepuh yang dahulu sempat tak diterima lagi oleh para juragan di kampung halaman mereka. 

Founder Batik Tembayat, Gina Sutono, mengungkapkan bahwa dahulu hasil batikan para pembatik sepuh dinilai terlalu kasar.

​“Untuk Batik Tembayat sendiri, itu adalah batik-batik yang sebetulnya sudah tidak diterima lagi oleh para juragan karena batikannya memang sudah tidak halus, alias kasar. Biasanya pembatik hanya bisa membatik, sedangkan yang mewarnai itu adalah juragan. Kunci keindahan sebuah batik selain kehalusan pencantingan adalah pada warnanya,” kata Gina saat diwawancarai di Lokal Indonesia Artisan Market, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat (7/8/2026).

​Rasa prihatin muncul saat Gina pertama kali masuk ke Bayat sekitar 20 tahun lalu. Melihat semangat para lansia yang tak pernah padam, ia bertekad mencari cara agar karya batik kasar tersebut tetap memiliki nilai jual di pasar. 

​“Saya melihat betapa semangat itu tidak pernah padam pada para Mbah-Mbah pembatik ini. Jadi, saya berupaya bagaimana caranya supaya batik-batik yang kasar ini bisa tetap diterima oleh pasar, sehingga para Mbah bisa terus mendapatkan upah yang layak,” ucapnya.

​Titik balik pun terjadi. Jika sebelumnya proses pewarnaan didominasi oleh para juragan, Gina memilih memberdayakan dan melatih komunitas anak muda setempat untuk menangani proses pewarnaan berbasis bahan alam. 

​Perpaduan teknik membatik klasik dari para sepuh dan sentuhan pewarnaan anak muda yang memahami tren fashion melahirkan estetika baru yang unik dan dinamis.

​“Komunitas anak muda ini kita latih untuk pewarnaan dan pembuatan cap menggunakan karton-karton bekas sereal, lalu dibuat ke dalam motif-motif yang lebih dinamis. Contohnya motif catur, seri game seperti PlayStation, hingga Mahjong yang lagi tren,” tutur Gina.

​Melalui inovasi ini, Gina berambisi mengubah pola pikir generasi muda terhadap batik. Batik tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno, melainkan busana dinamis yang fleksibel dikenakan sesuai selera zaman. 

Menurutnya, regenerasi batik bukan hanya soal motif, melainkan bagaimana anak muda terlibat langsung dan mengeksplorasi proses pembuatannya.

​“Harapan saya, dengan inovasi warna ini, anak-anak muda bisa lebih menerima dan mau memakai batik,” ungkapnya.

​Tidak berhenti pada kolaborasi lintas generasi, ekosistem Batik Tembayat semakin lengkap dengan hadirnya sentuhan kawan-kawan disabilitas. Gina membina para penyandang disabilitas, khususnya tunarungu, bukan pada proses membatik yang berisiko karena berhubungan dengan api, melainkan pada pembuatan produk turunan batik seperti jahitan, tas, dan ragam kriya (handicraft).

​“Saya khawatir mengenai keselamatan mereka jika membatik. Akhirnya saya arahkan untuk membuat produk turunan. Jadi, kain batik dari tim anak muda di Desa Bayat ini dijahit dan diolah menjadi produk turunan oleh kawan-kawan disabilitas yang kita latih,” jelas Gina.

​Langkah ini melahirkan kolaborasi inklusif yang berfokus pada tahap penjahitan dan kriya lanjutan. Melalui wadah Voice of Voiceless (VoV), komunitas inklusif yang diinisiasi atas kerja sama lintas agama dan nilai kemanusiaan bersama Lembaga Daya Dharma, kawan-kawan disabilitas mendapatkan pelatihan vokasional secara intensif.

​Bagi Gina, pelatihan vokasional tidak akan berdampak nyata tanpa adanya kepastian lapangan kerja yang berkelanjutan. Meskipun jumlah kawan disabilitas  yang terlibat secara rutin saat ini masih terbatas, penekanan utama diberikan pada standar kualitas dan presisi jahitan agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar fashion nasional.

​“Kalau mereka hanya dilatih tanpa diberi lapangan pekerjaan, tentu akan percuma. Karena itu, kami berpikir bagaimana caranya agar hasil pelatihan awal bisa langsung diserap dan membuka lapangan kerja yang berkelanjutan untuk mereka,” pungkasnya.

(Nadya Kurnia)

SHARE