Taman Baca Kampung Buku, Oase Literasi dan Alternatif Rekreasi Edukasi di Sudut Jakarta
Saat ini Taman Baca Kampung Buku memiliki sekitar 4.500 koleksi, baik buku anak-anak, pengetahuan umum maupun bacaan untuk orang dewasa.
IDXChannel—Jika biasanya taman baca berada di tengah kota dan area ramai masyarakat yang berlalu-lalang, berbeda dengan Taman Baca Kampung Buku di Cibubur, Jakarta Timur, yang satu ini.
Terletak di jalan kecil sekitar bantaran Sungai Cipinang, pembatas antara Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat, taman baca ini berdiri kokoh menunjukkan eksistensinya meski berada di sudut pinggiran kota.
Bentuknya pun tak semewah taman baca lainnya, hanya sebuah bangunan yang menyatu dengan rumah, dilengkapi dengan lantai dua berupa saung sederhana. Namun, tempat ini tak pernah sepi dari tawa dan rasa penasaran anak-anak yang menikmati berbagai pengetahuan dari ratusan koleksi buku yang dihadirkan.
Keunikan dari taman baca yang berdiri sejak 2010 ini bukan hanya letaknya di sudut kota, melainkan pengelolaannya yang sepenuhnya mandiri. Adalah Edi Dimyati, sosok berdedikasi di balik berdirinya ruang kreatif tersebut.
“Kampung Buku itu adalah sebuah taman baca masyarakat yang berdiri pada tahun 2010. Taman Baca Kampung Buku ini memiliki misi untuk menjadi tempat bertemunya orang-orang yang suka dengan buku. Nah, kedua taman baca Kampung Buku ini dijadikan sarana berkreasi apa pun selama itu positif,” kata Edi saat diwawancarai iNews Media Group, Sabtu (18/7/2026).
Edi menceritakan, setiap harinya ada sekitar 40 anak dari RW 5 Kelurahan Cibubur yang rutin datang setelah jam sekolah berakhir.
Bukan hanya untuk membaca, tapi juga untuk belajar menulis dan berhitung serta membahas berbagai topik pengetahuan lainnya yang tidak dipahami atau tidak diajarkan di sekolah. Anak-anak tersebut belajar di bawah bimbingan dua relawan taman baca tersebut, termasuk sang istri.
Selain anak-anak yang belajar, banyak juga anak-anak yang hanya datang untuk sekadar membaca berbagai koleksi buku, komik, hingga novel anak yang tersedia.
Apalagi, saat ini Taman Baca Kampung Buku memiliki sekitar 4.500 koleksi, baik buku anak-anak, pengetahuan umum maupun bacaan untuk orang dewasa.
Uniknya, taman baca ini tidak monoton dengan deretan rak berisi buku-buku dan saung untuk belajar. Melainkan ada juga spot membaca tematik yang bisa dinikmati anak-anak.
Seperti spot khusus komik yang penuh warna-warni, meja estetik dan dihiasi deretan bendera berbagai negara. Bahkan ada juga Ruang Ungu yang disediakan khusus untuk anak-anak belajar menggunakan komputer dan mencari informasi di internet.
“Di Ruang Ungu, anak-anak bisa mampir untuk belajar mengetik atau mencari informasi di internet menggunakan dua unit komputer yang tersedia. Sementara di sudut yang lain, kami sediakan khusus untuk membaca koleksi komik,” ucap dia.
Edi menuturkan, ide awal tercetusnya taman baca ini berawal dari kecintaannya terhadap buku saat dirinya masih tinggal bersama sang bibi. Kala itu, saking cintanya Edi terhadap buku, ia sampai memiliki ratusan koleksi, hingga berbagai literasi dan pengetahuan ia dapati.
Dari situ, terbersit di pikirannya untuk membagi berbagai pengetahuan tersebut, bukan hanya kepada keluarganya di rumah, tetapi juga kepada publik.
Tidak hanya itu, motivasi dirinya untuk membuka taman baca juga berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya fasilitas literasi di lingkungan terkecil masyarakat, yaitu di tingkat RW.
Sehingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka taman baca untuk anak-anak di sekitar permukiman padat penduduk. Terlebih, lokasi perbatasan dan pinggiran kota yang cenderung jauh dari perpustakaan, sehingga ia ingin lebih mendekatkan buku kepada masyarakat.
“Pengennya buku-buku itu bisa dimanfaatkan oleh orang banyak, terus bisa bermanfaat informasi yang ada di dalam buku itu. Alasan kedua juga perpustakaan tuh boleh dikatakan langka. Harusnya di setiap RW itu ada perpustakaan, mungkin di kantor RW atau balai warga. Itulah motivasi kenapa pengen bikin taman baca atau perpustakaan masyarakat di permukiman,” tutur Edi.
Tidak hanya menjadi tempat literasi, bagi Edi, yang ia inginkan adalah hadirnya Taman Baca Kampung Buku di sudut Jakarta ini yang bisa menjadi alternatif rekreasi dan edukasi bagi anak-anak.
“Dijadikan tempat rekreasi. Jadi, taman baca ini tempat bermain, tempat berwisata. Jadi, enggak hanya ke mal, taman baca atau perpustakaan juga bisa dijadikan salah satu pilihan untuk rekreasi,” ungkap dia.
Namun, membesarkan Taman Baca Kampung Buku tak semudah membalikkan telapak tangan. Edi harus menghadapi berbagai tantangan, termasuk terpaksa berpindah tempat sebanyak dua kali, yakni pada 2003 dan 2007.
Bahkan saat ia yakin membuka taman baca di tempat ketiganya yang sekarang, ia harus terpaksa meminjam uang ke koperasi sebesar Rp5 juta sebagai modal untuk membuat saung agar ratusan koleksi buku anak-anak tidak basah terkena air hujan seperti di dua tempat sebelumnya.
“Kena air (saat hujan) kebasahan kehujanan (buku koleksi taman baca). Saya dulu pada akhir tahun 2009 meminjam uang ke koperasi Rp5 juta. Buat apa? Buat bikin saung. Tanah sudah ada, cuma belum ada bangunannya. Akhirnya bikin saung untuk memindahkan buku-buku yang ada di tempat sebelumnya supaya nggak kehujanan,” tutur Edi.
Hingga saat ini, operasional Taman Baca Kampung Buku masih ditanggung secara mandiri oleh Edi. Seperti pengeluaran untuk listrik, pemeliharaan buku, tempat membaca, dan lain sebagainya, semuanya masuk ke dalam catatan keuangan keluarganya.
Meski demikian, ada juga beberapa pihak yang pernah memberikan donasi kepada taman baca tersebut, tetapi tidak terlalu sering.
“Pengelola mandiri atau pribadi, terus untuk biaya operasional mandiri. Nah, dari pihak luar belum ada yang rutin. Maksudnya, rutin tuh setiap bulan kita mendapat dana operasional sekian itu sejak 2010, belum pernah ada secara rutin. Tapi kalau yang sesekali sih ada yang ngasih dan itu terlaporkan di media sosial di Instagram,” pungkas dia.
(Nadya Kurnia)