87 Persen Emiten Sudah Terbitkan Laporan Keberlanjutan 2025 tapi Angka Verifikasi Masih Rendah
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat mayoritas perusahaan tercatat telah memenuhi kewajiban pelaporan keberlanjutan.
IDXChannel - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat mayoritas perusahaan tercatat telah memenuhi kewajiban pelaporan keberlanjutan. Hingga saat ini, sebanyak 87 persen emiten telah menyampaikan sustainability report atau laporan berkelanjutan 2025.
Namun, kualitas pelaporan masih menjadi tantangan. Sebab, baru 13 persen laporan yang telah memperoleh verifikasi dari pihak ketiga.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengatakan, perkembangan penerapan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) di pasar modal Indonesia terus menunjukkan tren positif, baik dari sisi investasi, pendanaan, maupun transparansi perusahaan tercatat.
"Dari sisi transparansi, 87 persen perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keberlanjutan 2025. Baru 13 persen yang memperoleh verifikasi pihak ketiga," kata Iding dalam IDX Channel ESG Conference 2026 di Main Hall BEI, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Selain peningkatan pelaporan keberlanjutan, kata Iding, semakin banyak emiten yang mulai mengungkapkan data emisi karbon. Hingga saat ini, sebanyak 58 persen perusahaan tercatat telah melaporkan emisi scope 1 dan scope 2, sementara 32 persen telah melaporkan emisi scope 3.
Menurutnya, penyediaan informasi ESG yang relevan, terukur, transparan, dan mudah diakses menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung investor dalam mengambil keputusan investasi.
Untuk itu, BEI terus mengembangkan berbagai infrastruktur pelaporan ESG, mulai dari pelaporan metrik ESG melalui SPE-IDXnet yang mengadopsi ASEAN ESG Common Core Metrics dan diselaraskan dengan POJK Nomor 51 Tahun 2017.
Selain itu, BEI juga menyediakan IDX ESG Metrics Guidance sebagai panduan bagi perusahaan tercatat dalam menyusun laporan ESG sekaligus memudahkan investor memahami informasi keberlanjutan yang dipublikasikan emiten.
Iding menegaskan, penerapan ESG kini telah melampaui sekadar pemenuhan regulasi (beyond compliance). Menurutnya, ESG telah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan untuk mengelola risiko, menangkap peluang, meningkatkan daya saing, serta menciptakan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
"Perusahaan-perusahaan yang unggul dilihat dari bagaimana kepeduliannya terhadap aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Banyak investor global juga menjadikan ESG sebagai salah satu pertimbangan utama dalam keputusan investasi," ujarnya.
Iding menambahkan, BEI berharap peningkatan kualitas pelaporan keberlanjutan, termasuk melalui verifikasi independen, dapat memperkuat kredibilitas informasi ESG sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem investasi berkelanjutan di pasar modal Indonesia.
(Dhera Arizona)