MARKET NEWS

AADI Divestasi Seluruh Saham Kestrel Coal, Potensi Transaksi Tembus Rp41 Triliun

Rahmat Fiansyah 15/04/2026 08:05 WIB

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melalui anak usahanya, Adaro Capital Limited (ACL) melepas saham Kestrel Coal Group Pte Ltd.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melalui anak usahanya, Adaro Capital Limited (ACL) melepas saham Kestrel Coal Group Pte Ltd. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melalui anak usahanya, Adaro Capital Limited (ACL) melepas saham Kestrel Coal Group Pte Ltd, perusahaan batu bara kokas yang beroperasi di Central Queensland, Australia.

Pada Selasa (14/4/2026), ACL yang dikendalikan sepenuhnya oleh perseroan telah meneken Perjanjian Jual Beli (Sale and Purchase Agreement) terkait penjualan saham Kestrel Coal, termasuk waran-waran. 

"Tujuan rencana transaksi adalah untuk mendukung pelaksanaan strategi bisnis dan investasi perseroan," kata Sekretaris Perusahaan AADi, Ray Aryaputra melalui keterbukaan informasi, Selasa (14/4/2026).

ACL melepas seluruh sahamnya di Kestrel Coal yang mencapai 720,38 juta saham atau setara dengan 47,99 persen dari total modal disetor dan ditempatkan Kestrel. Nilai transaksi tersebut mencapai USD2,4 miliar atau setara Rp41 triliun dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS.

Angka tersebut mencakup uang yang dibayar di muka dalam bentuk tunai (upfront cash consideration) senilai USD1,85 miliar atau Rp31 triliun. Sementara sisanya dibayar menggunakan skema klausul yang akan dicairkan jika memenuhi syarat.

Skema yang disebut contingent cas consideration itu bernilai hingga USD550 juta yang baru akan dibayar jika harga rata-rata batu bara kokas melebihi batasan tertentu mengacu pada indeks Platts Premium Low Vol Hard Coking Coal FOB Australia atau PLVHA00. Pembayaran dilakukan setiap tahun selama lima tahun sejak penyelesaian transaksi.

Jika transaksi ini terwujud, maka neraca AADI akan semakin kuat meski kehilangan potensi laba. Hingga 31 Desember 2025, posisi kas dan setara kas perseroan mencapai Rp15,5 triliun.

>

(Rahmat Fiansyah)

SHARE