Ada Badai MSCI, Saham Apa Saja yang Bisa Tahan Banting?
Tekanan besar akibat keputusan terbaru MSCI mengguncang pasar saham Indonesia.
IDXChannel – Tekanan besar akibat keputusan terbaru MSCI mengguncang pasar saham Indonesia. Namun di tengah ‘badai’ tersebut, sejumlah saham dinilai masih memiliki daya tahan dan layak dicermati investor, terutama dari sektor komoditas dan saham defensif.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai, saham-saham berbasis komoditas emas dan logam menarik untuk dicermati karena dinilai memiliki fundamental yang solid serta potensi pertumbuhan kinerja keuangan.
“Saat ini saham-saham komoditas emas dan logam terlihat memiliki fundamental serta potensi laporan keuangan yang growth,” ujar Michael, Rabu (28/1/2026).
Ia menambahkan, minat investor asing juga masih terlihat cukup kuat di sektor tersebut. “Foreign juga aktif di sektor ini,” katanya.
Saham-saham yang disebut Michael antara lain ANTM, MBMA, NCKL, dan INCO.
Pandangan lainnya datang dari CGS International. Dalam analisisnya, CGS menilai Indonesia berisiko menghadapi arus keluar dana asing apabila MSCI menerapkan skenario terburuk dalam penilaian free float saham domestik.
Meski demikian, CGS menilai masih ada sejumlah sektor dan saham yang relatif lebih tahan terhadap tekanan.
CGS menyarankan investor untuk selektif memilih saham dengan kepemilikan asing rendah, eksposur dolar AS yang terbatas, serta karakter defensif, seperti valuasi murah dan dividend yield tinggi.
Sektor yang dinilai lebih resilien antara lain rokok, unggas, transportasi, jalan tol, utilitas, serta beberapa saham logam tertentu.
IHSG Turun Tajam
Tekanan pasar sendiri tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok tajam hingga memicu penerapan trading halt pada lanjutan sesi II perdagangan Rabu (28/1/2026).
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sempat merosot 8,00 persen ke level 8.261,79 pada pukul 13.43 WIB, sebelum perdagangan dihentikan selama 30 menit dan dibuka kembali pada pukul 14.13 WIB.
IHSG kemudian ditutup melemah 7,35 persen di posisi 8.320,56. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp45,43 triliun dengan volume perdagangan 57,78 miliar saham.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 41 saham yang menguat, sementara 787 saham turun dan 130 saham stagnan.
Tekanan jual terutama menyasar saham-saham konglomerasi yang lekat dengan narasi MSCI, serta perbankan besar yang tercakup dalam indeks global tersebut, seiring investor, termasuk asing, bergegas mengurangi risiko (risk-off).
Michael menilai tekanan tersebut dipicu oleh ketidakpastian terkait metodologi MSCI, khususnya dalam perhitungan kapitalisasi pasar yang sangat bergantung pada free float.
“Karena dalam threshold MSCI, perhitungan market cap didasari dari free float,” kata Michael.
Ia menambahkan, selama status free float suatu saham masih berada dalam pengawasan, investor akan kesulitan melakukan penilaian yang akurat. “Jika posisi free float masih dalam pengawasan, bagaimana investor bisa mengkalkulasi market cap?” ujarnya.
Michael juga menyoroti implikasi serius dari langkah MSCI yang membekukan sementara posisi Indonesia dalam indeks global.
“Terbaru, MSCI akan membekukan sementara posisi Indonesia, sehingga tidak akan ada konstituen yang masuk maupun keluar. MSCI akan merevisi kembali hingga Mei, di mana ada potensi Indonesia akan dikeluarkan dari klasifikasi emerging market,” katanya.
Risiko Outflow Jumbo
Menurut Michael, skenario terburuk tersebut berpotensi memicu arus keluar dana hingga sekitar Rp150 triliun.
Karena itu, ia menekankan perlunya langkah kolektif dari otoritas pasar modal. “Perlu adanya kerja kolektif antara KSEI, BEI, dan OJK untuk memperbaiki struktur kepemilikan company dalam disclosure-nya,” tutur dia.
Sementara itu, CGS memperkirakan jika MSCI menerapkan diskon sekitar 20 persen melalui mekanisme discount multiplier, dana pasif yang keluar dari pasar saham Indonesia bisa mencapai sekitar USD2 miliar atau setara Rp33,40 triliun.
Risiko yang lebih ekstrem adalah potensi reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market, yang dapat memicu arus keluar dana pasif hingga mendekati USD10 miliar atau sekitar Rp167 triliun.
Dengan ketidakpastian yang diperkirakan masih berlangsung hingga pengumuman MSCI berikutnya mendekati Mei 2026, pasar dinilai berpotensi mengalami tekanan berkepanjangan.
Dalam kondisi ini, investor diimbau lebih selektif dan fokus pada saham-saham yang dinilai mampu bertahan di tengah volatilitas tinggi.
Peringatan MSCI
Keputusan terbaru tersebut disampaikan dalam pengumuman resmi MSCI Global Standard Indexes pada Selasa (27/1/2026) malam waktu setempat atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Langkah tersebut diambil setelah MSCI menyelesaikan konsultasi mengenai penilaian free float saham Indonesia.
Dalam proses itu, sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan. Namun, mayoritas investor justru menyampaikan kekhawatiran serius atas klasifikasi pemegang saham dalam data KSEI.
Meski terdapat perbaikan minor pada data free float yang disediakan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), investor menilai persoalan mendasar masih belum teratasi.
MSCI mencatat adanya keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran atas potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mengganggu pembentukan harga yang wajar di pasar.
Untuk merespons kondisi tersebut, MSCI menilai diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal terkait struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan tingkat konsentrasi kepemilikan, guna mendukung penilaian free float dan investabilitas saham Indonesia secara lebih robust.
Pembekuan Berlaku Sejak Sekarang
Mulai berlaku segera, MSCI menerapkan perlakuan sementara (interim treatment) terhadap saham Indonesia dalam berbagai peninjauan indeks maupun aksi korporasi, termasuk dalam Review Indeks Februari 2026.
Dalam kebijakan ini, MSCI membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham tercatat (Number of Shares/NOS).
Selain itu, MSCI tidak akan melakukan penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak mengimplementasikan kenaikan kelas saham antarsegmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI menyatakan kebijakan ini bertujuan membatasi perputaran indeks (index turnover) dan mengurangi risiko investabilitas, sambil memberi waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna.
Risiko Penurunan Status Pasar
MSCI juga mengingatkan, apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam perbaikan transparansi pasar, status aksesibilitas pasar Indonesia akan ditinjau ulang. Proses tersebut, setelah melalui konsultasi pasar, berpotensi berujung pada penurunan bobot saham Indonesia di dalam indeks MSCI Emerging Markets.
Lebih jauh, MSCI membuka kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (Emerging Market) menjadi pasar frontier (Frontier Market).
MSCI menegaskan akan terus memantau perkembangan pasar Indonesia serta berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. Langkah lanjutan akan diumumkan sesuai dengan perkembangan yang terjadi. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.