Adaro Beli Kestrel USD2,25 Miliar di 2018, Kini Jual ke Yancoal USD2,4 Miliar
Yancoal sepakat mengakuisisi 80 persen saham tambang batu bara metalurgi Kestrel di Queensland, Australia, dengan nilai transaksi hingga USD2,4 miliar.
IDXChannel – Langkah divestasi PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) atas tambang Kestrel menandai realisasi nilai investasi setelah sebelumnya diakuisisi pada 2018.
Kini, Yancoal Australia sepakat membeli 80 persen saham tambang batu bara metalurgi Kestrel di Queensland, Australia, dengan nilai transaksi hingga USD2,4 miliar atau sekitar Rp40,8 triliun (asumsi kurs Rp17.000 per USD). Menurut catatan Dow Jones Newswires, nilai ini lebih tinggi dibanding harga akuisisi awal sebesar USD2,25 miliar saat aset tersebut dibeli dari Rio Tinto.
Dalam pernyataan resmi ke bursa Australia, Yancoal, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Yankuang Energy Group dari China, menyebut akan mengakuisisi saham tersebut dari EMR Capital dan Adaro Capital, unit usaha milik AADI.
Transaksi mencakup pembayaran tunai awal sebesar USD1,85 miliar saat penyelesaian, yang ditargetkan rampung pada akhir kuartal III-2026.
Selain itu, terdapat tambahan pembayaran hingga USD550 juta dalam lima tahun, yang disesuaikan dengan rata-rata harga acuan batu bara.
Tambang Kestrel yang berlokasi di Bowen Basin, Queensland, merupakan salah satu tambang batu bara metalurgi bawah tanah terbesar di Australia. Produksinya sebagian besar dipasarkan ke industri baja di kawasan Asia.
Chief Executive Officer (CEO) Yancoal, Sharif Burra, menyebut akuisisi ini sebagai langkah strategis yang akan memperbesar skala usaha dan mendiversifikasi portofolio perseroan, terutama dengan menambah porsi batu bara metalurgi di tengah dominasi batu bara termal untuk pembangkit listrik.
“Langkah ini memperkuat posisi Yancoal sebagai produsen batu bara terkemuka di Australia sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham,” ujarnya, dikutip Dow Jones Newswires, Rabu (15/4/2026).
Yancoal berencana mendanai akuisisi melalui kas internal, fasilitas pinjaman sebesar USD1,2 miliar, serta arus kas dari bisnis yang telah diperluas.
Sebagai informasi, Mitsui & Co. asal Jepang masih memegang sisa 20 persen saham tambang tersebut. (Aldo Fernando)