Adhi Karya (ADHI) Andalkan Divestasi Aset Perkuat Modal Kerja dan Bayar Utang
PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mengandalkan divestasi sejumlah aset untuk memperkuat modal kerja sekaligus menyelesaikan kewajiban kepada sub kontraktor.
IDXChannel - PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mengandalkan divestasi sejumlah aset untuk memperkuat modal kerja sekaligus menyelesaikan kewajiban kepada sub kontraktor, vendor, dan kreditur.
Direktur Keuangan Adhi Karya, Bani Iqbal, mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari program streamlining dan restrukturisasi keuangan perseroan yang akan dilakukan mulai 2026 dan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
"Kita juga melakukan penguatan modal kerja atas aset kita yang cukup potensial untuk dilikuidasi, di tahun 2026 dan seterusnya. Di mana nanti hasil divestasi aset ini tidak hanya modal-modal kerja, tetapi juga untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban kepada subkon vendor maupun kreditur," ujar Bani dalam public expose live 2026, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, ADHI juga membutuhkan reprofiling terhadap kredit perbankan dan obligasi karena posisi kewajiban perseroan yang cukup besar. Restrukturisasi tersebut akan dikombinasikan dengan hasil divestasi aset.
Di sisi lain, Direktur Operasi I ADHI Karya Harimawan mengakui tekanan keuangan turut mempengaruhi kemampuan perseroan memenuhi kewajiban kepada mitra kerja, termasuk kontraktor dan vendor.
"Secara tenggat waktu memang agaknya menjadi permasalahan di kita, tetapi kondisi kas kita harapkan bisa segera membaik," kata Harimawan.
Berdasarkan kondisi keuangan per kuartal II-2026, tekanan pada arus kas memang masih terlihat. Kas operasi ADHI tercatat defisit Rp750 miliar, membesar dibandingkan defisit Rp180 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, total aset ADHI turun 19,9 persen menjadi Rp27,53 triliun dari sebelumnya Rp34,38 triliun. Liabilitas juga turun 1,9 persen menjadi Rp24,21 triliun.
Namun, ekuitas perseroan mengalami penurunan tajam sebesar 65,8 persen menjadi Rp3,31 triliun dari Rp9,69 triliun. Kondisi tersebut turut membuat rasio Debt to Equity Ratio (DER) total meningkat dari 2,55 kali menjadi 7,30 kali.
Sementara itu, DER berbasis interest-bearing debt (IBD) meningkat dari 0,89 kali menjadi 2,42 kali. Manajemen menyatakan posisi DER IBD tersebut masih berada di bawah batas maksimum covenant sebesar 3,50 kali.
Di tengah tekanan keuangan tersebut, kinerja operasional ADHI masih mencatatkan perbaikan dari sisi profitabilitas. Pendapatan perseroan pada kuartal II-2026 turun 18,4 persen menjadi Rp3,11 triliun dari Rp3,81 triliun.
Namun, EBITDA justru meningkat 28,1 persen menjadi Rp551,64 miliar dari Rp430,72 miliar. Laba bersih juga naik 12,6 persen menjadi Rp8,49 miliar dari Rp7,54 miliar.
(NIA DEVIYANA)