Ancol (PJAA) Rugi Rp38,4 Miliar pada Kuartal I-2026
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) mencatatkan kerugian dalam tiga bulan pertama tahun ini sebesar Rp38,4 miliar.
IDXChannel - PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) mencatatkan kerugian dalam tiga bulan pertama tahun ini. Emiten milik Pemerintah Daerah DKI Jakarta itu mencetak rugi bersih Rp38,4 miliar di kuartal I-2026.
Dalam laporan keuangan yang diterbitkan Rabu (16/4/2026), pendapatan usaha Ancol turun 1,6 persen menjadi Rp207,5 miliar. Pendapatan tiket turun 8 persen menjadi Rp126 miliar.
Penurunan terjadi baik pada tiket wisata maupun pintu gerbang yang masing-masing terkoreksi 7,3 persen dan 8,8 persen. Kondisi ini terjadi di tengah libur panjang Lebaran, yang mencerminkan tekanan bisnis akibat kompetisi di sektor pariwisata.
Namun, pendapatan berulang (recurring income) dari penyewaan kios, lahan, dan gedung hingga pengelolaan perumahan naik 11 persen menjadi Rp66,2 miliar.
Di tengah penurunan pendapatan, beban pendapatan dan beban langsung meningkat 10 persen menjadi Rp151 miliar. Lonjakan terutama terjadi pada beban gaji dan tunjangan sebesar 35 persen menajdi Rp28,6 miliar serta biaya telepon, listrik, dan air yang naik hingga 83 persen menjadi Rp23,2 miliar.
Alhasil, laba kotor melemah 24 persen menjadi Rp56,3 miliar dari sebelumnya Rp74,2 miliar. Beban usaha juga meningkat 25 persen menjadi Rp70,74 miliar.
Kombinasi antara penurunan pendapatan dan meningkatnya biaya operasional Ancol membuat kinerja bottom line tertekan. Hingga 31 Maret 2026, Ancol mengalami rugi bersih Rp38,4 miliar. Kerugian ini membengkak dibandingkan 240 persen dari periode yang sama sebelumnya yang rugi Rp11,3 miliar.
Meski rugi, neraca Ancol membaik imbas penurunan piutang yang signifikan dari pihak ketiga. Posisi kas dan setara kas melesat 43 persen menjadi Rp398,6 miliar, sedangkan piutang dari pihak ketiga turun dari Rp61,5 miliar menjadi Rp22,2 miliar.
Selain itu, ekuitas Ancol juga turun 2 persen menjai Rp1,8 triliun usai mencatat rugi. Saldo laba masih solid sebesar Rp1,52 triliun, yang mencerminkan akumulasi laba yang konsisten pada tahun-tahun sebelumnya.
Peningkatan likuiditas Ancol juga terlihat dari arus kas operasional yang naik tajam dari Rp68 miliar menjadi Rp214,4 miliar. Kenaikan tersebut imbas penerimaan dari pelanggan yang tumbuh sekitar 68 persen menjadi Rp409 miliar.
Serapan belanja modal juga turun 72 persen menjadi Rp6,3 miliar, sedangkan kas yang dialokasikan pendanaan naik signifikan imbas pembayaran utang obligasi yang mencapai Rp65,4 miliar.
(Rahmat Fiansyah)