MARKET NEWS

Andaikan Taruh Rp100 Juta di Saham TPIA Awal 2026, Kini Nilainya Tinggal Rp25 Juta

TIM RISET IDX CHANNEL 25/05/2026 10:07 WIB

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.54 WIB, saham TPIA anjlok 10,50 persen ke level Rp1.790 per saham.

Andaikan Taruh Rp100 Juta di Saham TPIA Awal 2026, Kini Nilainya Tinggal Rp25 Juta. (Foto: Chandra Asri)

IDXChannel – Tekanan terhadap saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kian dalam. Jika investor menempatkan dana Rp100 juta di saham emiten petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu itu pada awal 2026, maka nilai investasinya kini diperkirakan hanya tersisa sekitar Rp25,6 juta.

Estimasi kasar tersebut mengacu pada penurunan saham TPIA sebesar 74,36 persen secara year to date (YtD) hingga perdagangan Senin (25/5/2026).

Catatan saja, perhitungan ini hanya untuk memberikan gambaran umum kepada pembaca terkait besarnya koreksi yang terjadi pada saham tersebut.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.54 WIB, saham TPIA anjlok 10,50 persen ke level Rp1.790 per saham, menjadi posisi terendah sejak sekitar Januari 2022.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp138,9 miliar dengan volume perdagangan 74,34 juta saham. Koreksi tersebut sekaligus memperpanjang pelemahan TPIA menjadi tujuh hari beruntun.

Bahkan, dalam lima hari selama periode 13-21 Mei 2026, saham TPIA berulang kali menyentuh auto rejection bawah (ARB) 15 persen.

Secara mingguan, saham TPIA sudah merosot 58,37 persen dan tergelincir 70,25 persen dalam sebulan. Padahal, saham ini sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp11.200 per saham pada 7 Agustus 2024.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan terhadap TPIA dipicu potensi keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI setelah perubahan data kepemilikan saham yang dibuka oleh BEI membuat kapitalisasi pasar free float perseroan tidak lagi memenuhi ambang batas indeks global tersebut.

“TPIA akan keluar dari indeks MSCI karena jumlah shareholders di atas 1 persen yang dibuka oleh BEI membuat market cap free float tidak memenuhi threshold,” ujar Michael, Kamis (21/5/2026) pekan lalu.

Dia memperkirakan keluarnya TPIA dari indeks MSCI berpotensi memicu arus dana keluar (outflow) sekitar Rp2 triliun dari investor pasif global.

Menurut Michael, tekanan jual terhadap saham TPIA dan saham-saham Grup Barito yang berkaitan dengan MSCI diperkirakan masih berlanjut hingga periode penyesuaian indeks MSCI berikutnya pada Juni 2026.

Di tengah tekanan tersebut, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) buka suara terkait ramainya spekulasi di media sosial mengenai dugaan margin call atas saham TPIA di tengah tekanan tajam yang terjadi pada saham-saham Grup Barito dalam beberapa hari terakhir.

Isu tersebut ramai diperbincangkan di platform X maupun Instagram setelah sejumlah akun mengaitkan pelemahan saham TPIA dengan potensi tekanan pada fasilitas pembiayaan berbasis jaminan saham.

Di Instagram, sebuah akun edukasi pasar modal menarasikan bahwa pelemahan beruntun saham TPIA yang kerap menyentuh auto rejection bawah (ARB) 15 persen memunculkan dugaan margin call pada Grup Barito.

Sebuah unggahan bahkan menyebut saham TPIA dijadikan jaminan oleh BRPT dan Prajogo Pangestu kepada sejumlah bank, sekaligus memperkirakan level harga yang dinilai dapat memicu margin call di masing-masing kreditur.

Merespons informasi yang beredar tersebut, Corporate Communication Barito Pacific menegaskan seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham perseroan dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur.

“Seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham oleh Barito Pacific dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan berbagai skenario risiko secara terukur. Penjaminan saham juga mencakup mekanisme dalam memitigasi terjadinya volatilitas pasar” tulis manajemen dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026) lalu.

Perseroan menambahkan, mekanisme penjaminan saham juga telah dirancang untuk memitigasi volatilitas pasar. Selain itu, BRPT mengaku terus menjaga rasio margin dan posisi likuiditas secara disiplin sesuai prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.

Di tengah gejolak harga saham, manajemen menegaskan kondisi operasional dan fundamental bisnis Barito Pacific maupun anak usahanya tetap solid dan resilien.

Tekanan terhadap saham-saham Grup Barito sendiri terjadi seiring kombinasi sentimen negatif, mulai dari rebalancing indeks global MSCI, pengumuman FTSE Russell terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC), hingga meningkatnya aksi jual asing terhadap saham-saham konglomerasi. (Aldo Fernando)

SHARE