MARKET NEWS

Andalkan Segmen Middle-Up, BELL Pasang Target Pertumbuhan 8 Persen di 2026

Desi Angriani 28/01/2026 07:33 WIB

Perseroan optimistis target tersebut dapat dicapai dengan menjaga keunggulan produk serta kemampuan memenuhi pesanan khusus.

Andalkan Segmen Middle-Up, BELL Pasang Target Pertumbuhan 8 Persen di 2026 (Foto: dok BELL)

IDXChannel - PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) membidik target pertumbuhan kinerja sebesar 8 persen pada 2026. 

Perseroan optimistis target tersebut dapat dicapai dengan menjaga keunggulan produk dengan karakter unik (uniqueness) serta kemampuan memenuhi pesanan khusus (customized order).

"Fleksibilitas dalam pemenuhan pesanan akan membuat produk BELL tetap relevan dan memiliki daya saing, baik di pasar domestik maupun internasional," kata manajemen BELL dalam menjawab pertanyaan Bursa Efek Indonesia di keterbukaan informasi pada Selasa (27/1/2026).

Selain itu, kekuatan merek Bellini dan Caterina yang telah lama dikenal pasar menjadi modal penting bagi perseroan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah persaingan yang kian ketat.

Perseroan mengakui tekanan persaingan semakin intens, terutama akibat maraknya produk impor ilegal berharga murah yang membanjiri pasar domestik. 

Namun, BELL menyebut dampaknya relatif terbatas terhadap kinerja perseroan, mengingat target pasar perusahaan berada pada segmen menengah ke atas (middle-up). 

"Segmen ini lebih mengutamakan kualitas, desain, dan diferensiasi produk ketimbang sekadar harga," tutur manajemen.

Dari sisi operasional, proses manufaktur masih dijalankan oleh induk usaha dengan tingkat utilisasi yang dinilai masih memiliki ruang untuk ditingkatkan pascapandemi covid-19. 

Sementara itu, penjualan kain melalui agen dan distributor dilakukan oleh entitas anak, sedangkan bisnis ritel dengan merek JOBB dan Jack Nicklaus masih disesuaikan dengan kondisi pasar yang dinamis.

Perseroan juga tengah memperkuat operasional anak usaha barunya, PT Trimas Bellindo Aparel Manufaktur, yang bergerak di bidang garmen. 

Saat ini, anak usaha tersebut berada dalam tahap penyesuaian operasional dan peningkatan stabilitas pesanan sebagai bagian dari strategi integrasi bisnis ke sektor hilir.

"Hingga saat ini tidak terdapat rencana bisnis baru di luar strategi yang telah dipaparkan," katanya.

Sementara itu, kenaikan harga saham BELL belakangan ini dipicu oleh sentimen eksternal, khususnya rencana pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp101 triliun untuk menopang dan membangkitkan industri tekstil nasional. 

Adapun saham BELL disuspensi Bursa sebanyak dua kali pada 20 dan 22 Januari. Hingga saat ini, BELL masih dikunci untuk memberikan waktu yang memadai bagi pelaku pasar dalam mempertimbangkan secara matang setiap pengambilan keputusan investasinya di saham tersebut.

(DESI ANGRIANI)

SHARE