Antisipasi FOMO dan Panic Selling, Begini Strategi Tuntun Sekuritas
di tengah optimisme massifnya keterlibatan generasi muda, juga menimbulkan tantangan terkait masih cukup terbatasnya tingkat literasi di kalangan investor.
IDXChannel - Dominasi generasi milenial dan juga Gen Z dalam industri pasar modal nasional semakin tak terbantahkan lagi, dengan data jumlah investor per awal 2026 mencapai 21,3 juta, dan 79 persen di antaranya merupakan kelompok usia di bawah 40 tahun.
Namun demikian, di tengah optimisme massifnya keterlibatan generasi muda, peta demografi ini juga menimbulkan sejumlah tantangan terkait masih cukup terbatasnya tingkat literasi di kalangan investor.
Kondisi tersebut memunculkan sejumlah potensi masalah, mulai dari maraknya aksi panic selling akibat pemahaman fundamental pasar yang terbatas, hingga fenomena Fear of Missing Out (FOMO), di mana investor pemula kerap kali berinvestasi dengan hanya mengikuti tren, tanpa mengetahui pertimbangannya secara matang.
"Karena itu, sebagai bagian dari antisipasi, kami menghadirkan yang namanya Tuntun AI, yang akan bertindak sebagai 'co-pilot' rasional, yang akan membantu nasabah memitigasi risiko emosional, seperti FOMO dan panic selling di tengah derasnya arus informasi pasar," ujar Direktur PT Tuntun Sekuritas Indonesia, Ricki Juliandi, dalam keterangan resminya, Selasa (14/4/2026).
Menurut Ricki, Tuntun AI merupakan wujud inovasi terbaru dari Tuntun Sekuritas yang tersedia langsung dalam aplikasi trading nasabah, dengan menghadirkan teknologi generative artificial intelligence secara native, guna mendampingi investor ritel berinvestasi secara lebih terstruktur dan berbasis data.
Dengan hadirnya inovasi tersebut, praktis juga menjadikan Tuntun Sekuritas sebagai broker pertama di Indonesia dengan Teknologi Generative AI, yang mampu mengubah 'noise' menjadi sinyal rasional di tengah derasnya arus informasi, rumor, dan sentimen di pasar modal.
"Jadi memang investor sering kali mengalami kebingungan atau kelumpuhan analisis (analysis paralysis). Kini, investor tidak lagi hanya membutuhkan data mentah, melainkan kemampuan instan untuk menerjemahkan data tersebut menjadi keputusan investasi yang lebih logis," ujar Ricki.
Ricki menjelaskan, fitur Tuntun AI dikembangkan dengan pendekatan decision-support system (sistem pendukung keputusan) yang bertindak sebagai rekan diskusi yang objektif bagi nasabah.
Terobosan ini sebagai jawaban bahwa seringkali musuh terbesar investor ritel bukanlah fluktuasi pasar, melainkan emosi mereka sendiri.
Karenanya, melalui Tuntun AI, Tuntun Sekuritas tidak sekadar memberikan tools trading atau data mentah, tapi menghadirkan 'otak rasional' yang mendampingi mereka 24 jam penuh di dalam aplikasi dalam mendukung analisa data.
Secara teknis, Tuntun AI berfokus pada kemampuan analitik dan sintesis bahasa dengan enam keunggulan, yaitu akses bebas biaya, real-time market data, contextual market intelligence, individual stock analysis, portfolio health-check serta sector insight.
"Teknologi ini hadir untuk memperkuat literasi dan kerangka berpikir, bukan mengambil alih kendali nasabah. Tuntun AI dirancang murni sebagai alat bantu berpikir. Investor tetap memegang kendali penuh dan menjadi pengambil keputusan utama atas dana mereka," ujar Ricki.
Bagi Ricki, hadirnya Tuntun AI merupakan wujud nyata komitmen Tuntun Sekuritas dalam mendorong literasi dan inklusi pasar modal melalui inovasi teknologi.
Dengan menyajikan riset dan analisis setara profesional yang kini bisa diakses secara luas, Tuntun Sekuritas mendemokratisasi akses informasi bagi seluruh kalangan investor di Indonesia.
"Kami percaya bahwa ke depan, pendampingan investasi berbasis Generative AI akan menjadi standar baru di industri sekuritas nasional. Tuntun AI menjadi langkah awal Tuntun Sekuritas dalam membangun pengalaman investasi yang lebih cerdas dan adaptif di masa depan," ujar Ricki.
(taufan sukma)