Antisipasi Karhutla, Triputra Agro (TAPG) Manfaatkan Satelit Pantau Hotspot
PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) memiliki strategi dalam mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area kebun sawit miliknya.
IDXChannel - PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) memiliki strategi dalam mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area kebun sawit miliknya. Mitigasi ini disiapkan seiring kondisi musim kemarau panjang dan kering akibat El-Nino yang mudah memicu titik api (hotspot).
Melalui entitas anak usaha PT Brahma Bina Bhakti (BBB) yang beroperasi di Jambi, perseroan mempunyai Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat dalam mengendalikan dan menangani karhutla, termasuk mengawasi hotspot melalui teknologi satelit.
Estate Manager PT Triputra Agro Persada Tbk, Timbul Simbolon mengatakan, tantangan dalam menangani karhutla di Jambi adalah musim kemarau panjang atau El Nino. Berbeda dengan Kalimantan, area konsesi perseroan di Jambi tidak memiliki lahan gambut.
"Jadi fokus kami adalah menghadapi kemarau panjang, angin kencang, dan peningkatan hotspot sepanjang musim kemarau," katanya di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Selasa (1/9/2026).
Timbul menjelaskan, kantor TAPG di Jakarta memiliiki unit khusus yang memantau hotspot di kebun dan konsesi. Saat satelit menangkap adanya hotspot, layar yang dipantau langsung menunjukkan informasi tanda bahaya, terutama jika posisinya dekat dengan konsesi. Dengan dilengkapi dengan peta lokasi titik, data itu kemudian dikirim tim di lapangan untuk dilakukan pengecekan.
Dia menyebut, pendekatan preventif ini berhasil menekan potensi kebakaran di area kebun dan konsesi. Dia menyebut, pada tahun ini, tidak ada hotspot di area kebun TAPG di Jambi yang mencapai 6.800 hektare (ha).
Di Jambi, TAPG juga memiliki dua Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang berlokasi masing-masing di utara dan selatan area kebun, termasuk 4 regu inti (60 orang), 12 regu pendukung (120 orang), dan 8 regu warga (80 orang). Kompetisi para petugas tersebut turut didukung dengan kerja sama pelatihan bersama Manggala Agni, brigade atau pasukan khusus pengendali karhulta di bawah Kementerian Kehutanan.
Selain tim dan satelit, TAPG juga memiliki sarana dan prasarana dalam menangani karhutla seperti embung yang mencapai 7 titik, 2 unit drone, 2 truk pemadam kebakaran, dan 12 menara pantau. Kesiapan ini memungkinkan tim bergerak cepat memadamkan hotspot, termasuk inisiatif menangani hotspot di daerah yang relatif jauh dari konsesi dan minim fasilitas pemadaman.
TAPG juga bergerak lebih jauh dengan terlibat memadamkan api di luar area konsesi. Sepanjang bulan Agustus 2026, perseroan ikut memadamkan api sebanyak 4 kali di Desa Suko Awin Jaya dan Desa Kaos.
Timbul menambahkan, perseroan juga secara berkala mengadakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk tidak membakar lahan saat membuka area tanam baru. Perseroan sendiri memiliki SOP yang ketat melalui zero burning policy secara mutlak di seluruh aktivitas pembukaan lahan baru (land clearing) maupun peremajaan kebun (replanting).
Langkah ini selaras dengan komitmen perseroan pada prinsip perlindungan pada area bernilai konservasi tinggi dan stok karbon tinggi (no deforestation), larangan membuka lahan gambut (no peat), menghormati HAM, bebas pekerja anak, dan kerja pasak (no exploitation), dan mewajibkan seluruh mitra mematuhi prinsip keberlanjutan (responsible sourcing). Hal tersebut menjadikan TAPG sebagai perusahaan sawit penyandang sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
(Rahmat Fiansyah)