ARB Terhenti, Saham GOTO Rebound dengan Transaksi Jumbo Rp2 Triliun
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mulai bangkit setelah empat hari berturut-turut terkena auto rejection bawah (ARB).
IDXChannel – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mulai bangkit setelah empat hari berturut-turut terkena auto rejection bawah (ARB) 15 persen.
Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), saham GOTO berbalik menguat dengan nilai transaksi jumbo hingga menembus Rp2 triliun.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 15.01 WIB, saham GOTO naik 3,57 persen ke Rp29 per saham setelah sempat menyentuh Rp30 atau menguat 7,14 persen.
Harga saham bergerak cepat di antara Rp29 dan Rp30, bahkan berpindah level dalam hitungan detik, seiring derasnya transaksi dari sisi pembeli maupun penjual.
Nilai transaksi saham GOTO mencapai Rp2,35 triliun, menjadi yang terbesar di BEI pada perdagangan hari ini.
Sementara total nilai transaksi seluruh saham di bursa mencapai Rp9,11 triliun.
Penguatan tersebut sekaligus menghentikan rentetan ARB GOTO yang berlangsung selama empat hari perdagangan, sejak Senin (28/9) hingga Kamis (1/10).
Tekanan jual meningkat tajam setelah BEI menghapus batas bawah harga Rp50 per saham, yang sebelumnya membatasi ruang penurunan saham GOTO di pasar reguler.
Pada perdagangan Senin (28/9), volume transaksi GOTO bahkan mencapai sekitar 1 miliar lot.
Setelah harga saham jatuh hingga ke area Rp20-an, pasar kini mulai menguji apakah tekanan jual telah mereda dan apakah GOTO mampu membentuk pijakan harga baru.
Perubahan tersebut membuat pergerakan GOTO memasuki fase yang berbeda.
Setelah tidak lagi tertahan oleh batas bawah Rp50, harga saham memiliki ruang lebih luas untuk mencari titik keseimbangan baru berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran.
Analis Phillip Sekuritas Indonesia Edo menilai penurunan GOTO hingga Rp28 per saham yang sempat disentuh pada Kamis (1/10) membuat valuasi pasar terlihat jauh di bawah nilai bisnis yang dijalankan perseroan.
“Kalau harga saham GoTo berada di Rp28, pasar seolah-olah hanya menghargai aset likuidnya dan tidak memberikan nilai pada bisnis yang sedang berjalan. Padahal GoTo punya bisnis dengan pendapatan yang tumbuh dan profitabilitas yang terus membaik. Karena itu, menurut kami harga tersebut belum mencerminkan fundamental perusahaan,” ujar Edo.
Menurut dia, konsensus pasar menempatkan harga wajar GOTO di kisaran Rp65-Rp74 per saham. Dibandingkan harga Rp28, kisaran tersebut menunjukkan selisih yang lebar antara harga pasar dan estimasi nilai berdasarkan konsensus analis.
Namun, rentang harga tersebut tidak serta-merta menunjukkan saham GOTO akan segera bergerak menuju level tersebut.
Realisasi potensi tersebut tetap bergantung pada kemampuan perseroan mempertahankan perbaikan kinerja sekaligus meredanya tekanan jual.
“Selisihnya memang lebar. Namun, potensi kenaikan itu baru akan lebih mudah terealisasi ketika tekanan jual mereda dan investor kembali menilai GoTo berdasarkan kinerja bisnisnya,” kata Edo.
Dari sisi fundamental, GoTo telah membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih perseroan mencapai Rp5,7 triliun, sedangkan EBITDA Grup yang disesuaikan untuk pertama kalinya menembus Rp1 triliun.
Perseroan menargetkan EBITDA Grup yang disesuaikan mencapai Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun sepanjang 2026.
Perbaikan kinerja tersebut menjadi salah satu basis yang digunakan investor untuk menilai apakah penurunan harga GOTO lebih mencerminkan tekanan teknikal dan arus jual jangka pendek atau perubahan fundamental bisnis.
“Sulit mengatakan GoTo tidak memiliki nilai bisnis ketika operasinya menghasilkan pendapatan triliunan rupiah dan profitabilitasnya membaik. Pada harga Rp28, saham ini terlihat murah apabila kemajuan tersebut dapat dipertahankan,” ujar Edo.
Selain kinerja operasional, GoTo juga telah memperoleh persetujuan untuk melakukan pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun.
Perseroan juga mengusulkan pembatalan sekitar 32 miliar saham treasuri.
Jika direalisasikan, aksi tersebut akan mengurangi jumlah saham beredar dan menjadi faktor lain yang akan dicermati pasar di tengah tekanan pada harga GOTO.
Potensi buyback sebelumnya juga disebut analis Citi Research Ferry Wong sebagai salah satu katalis bagi GOTO. Citi mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp95 per saham.
Citi menilai GoTo masih mampu mengelola dampak penurunan batas komisi untuk layanan pengantaran roda dua di Indonesia. Dengan demikian, tekanan terhadap bisnis on-demand services (ODS) dinilai masih dapat diimbangi oleh perkembangan bisnis lainnya.
Namun, pandangan analis terhadap valuasi GOTO tidak sepenuhnya seragam.
Dalam riset 28 September 2026, analis UOB Kay Hian Willinoy Sitorus dan Audrey Celia mempertahankan rekomendasi beli, tetapi memangkas target harga GOTO menjadi Rp60 dari sebelumnya Rp78 per saham.
UOB Kay Hian menurunkan asumsi blended EV/sales menjadi 2,7 kali dari 3,4 kali.
Penilaian tersebut menggunakan multiple berbeda untuk masing-masing segmen, yakni 1,8 kali untuk ODS, 3,8 kali untuk fintech, dan 1,7 kali untuk e-commerce.
Menurut UOB Kay Hian, multiple tersebut telah didiskon sekitar 25 persen dari rata-rata perusahaan sejenis secara global untuk mencerminkan tahap profitabilitas GOTO yang masih lebih awal serta risiko regulasi di Indonesia.
UOB juga menilai price-to-earnings (PE) semakin relevan karena fokus GoTo bergeser dari pertumbuhan menuju profitabilitas.
Pada harga Rp50 per saham, GOTO diperdagangkan pada sekitar 39 kali PE, dibandingkan Grab sekitar 19 kali dan Sea Ltd sekitar 22 kali.
Dengan menggunakan harga rata-rata hasil negosiasi terakhir sebesar Rp28 per saham, valuasi GOTO menjadi sekitar 21 kali PE.
Menurut UOB, ekspansi margin, khususnya yang didorong segmen fintech, menjadi kunci bagi GOTO untuk mendapatkan re-rating.
Di sisi lain, perseroan dinilai memiliki keunggulan bisnis yang ditopang basis pengguna GoPay serta peluang ekspansi margin seiring penguatan ekosistem.
UOB mencatat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, antara lain penerapan batas komisi 8 persen secara menyeluruh pada bisnis ODS, pelemahan daya beli, serta potensi peningkatan kredit bermasalah atau NPL dari bisnis fintech. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.